Sang Awam dalam pencarian alasan dibalik tingkah Malaysia kepada Indonesia akhir-akhir ini. Bukan sekedar memaki2 seperti yang dilakukan banyak orang.
Seperti yang telah diutarakan oleh berbagai Media kita, Malaysia telah berupaya perampasan hak atas budaya kita yaitu lagu Rasa Sayange dan alat musik Reog. Selain itu ada berita juga bahwa Naskah2 kuno juga dibeli (atau curi?) dari masyarakat kita. Pemerintah dan masyarakat kita tentu tersentak atas polah tersebut. Banyak pihak (yang bersimpati pada Indonesia) telah melakukan serangan terhadap Malaysia bahkan beberapa situs Malaysia dikerjai / disusupi (hacked). Sang Awam mengutarakan pelaku tersebut belum tentu orang indonesia tetapi pasti adalah pihak yang bersimpati pada Indonesia karena sampai saat ini tidak ada yang bisa memastikan bahwa penyusupan tersebut dilakukan oleh hacker asal Indonesia. Anyway, hal tersebut bukanlah hal yang akan dibahas.
Sewajarnya salah satu cara untuk membuat Maling jera adalah dengan mencuri miliknya bukan? Sehingga si Malingpun akan kehilangan. Nah tetapi coba kita lihat kenyataannya mengapa tidak ada diantara kita yang berfikiran untuk juga mencuri budaya Malaysia? Sang Awam lalu mencoba berfikir (dan anda coba juga berfikir). Kira2 budaya apa yang menarik untuk dicuri dari Malaysia? Sang Awam yakin Anda pasti tidak akan menemukannya. Mengapa sampai seperti itu? Disadari atau tidak ternyata memang tidak ada budaya Malaysia yang menarik, semenarik budaya negara asia lainnya.
Coba lihat iklan wisata yang banyak ditayangkan di media ataupun brosur. Apa yang selalu ditampilkan? YA ANDA BETUL. hanya menara kembar petronas. Lantas apalagi? YA, ANDA BETUL LAGI gambar Kuala Lumpur (KL) dengan background monorail. So apakah wisata Malaysia hanya KL ? Negara yang disebut sebagai Negara 9 Negeri ternyata hanya Negara 1 Kota ? Daya tarik yang coba ditonjolkan malaysia hanyalah mall2 tempat shopping dan tempat hiburan yang mana hal tersebut sudah banyak di Indonesia. Mungkin malaysia ingin mengalihkan daya tarik Singapore dalam hal obyek ber-shopping-ria. Tapi sepertinya Malaysia had too far dreaming on it. Karena menurut sang Awam dalam hal surga Shopping maka Malaysia nggak ada apa2nya dibandingkan dengna Singapore yang tidak tertandingi.
Kini anda bandingkan dengan brosur wisata Indonesia, Thailand, India, Sri lanka, Myanmar dll. Semua menampilkan pegunungan yang indah, pantai yang menggoda, bangunan sejarah yang menarik, legenda yang mengiring setiap obyek wisata alam, Kesenian asli daerah, Bangunan2 Kuno dan tentunya wajah penduduk asli yang beragam tetapi dengan satu kesamaan yaitu Keramahan Suku Asli.
Memang sebenarnya ada beberapa obyek wisata di Malaysia yang menarik. Namun bila ditampilkan dengan wajah mereka langsung terlihat bahwa tempat tersebut menjadi tidak menarik lagi. Sudah bukan menjadi rahasia bahwa perangai masyarakat Malaysia sangat tidak semenarik masyarakat Indonesia. Dan multi-etnik yang diberlakukan di malaysia justru menjadi boomerang karena mereka semakin kehilangan identitas bagaimana wajah asli bangsa mereka?
Tidak seperti di indonesia, pada kenyataannya kita pun sudah multi etnis namun kita tetap bisa melihat kekhasan wajah, tutur wicara, kesenian dari keragaman suku kita. Dan keramahan bangsa kita tidak hanya di Bali. Pada semua propinsi kita bisa merasakan keramahan tersebut.
Selain itu, bicara soal daya tarik wisata dimanca negara berarti bicara soal kesenian asli daerah tersebut. Dan namanya kesenian asli selalu ada sinergi antara seni tari, seni bela diri, seni lukis, seni dandan, seni bentuk (pahat, ukir), seni bangunan dll. Contoh pada seni beladiri atau seni tari yang asli pasti mengunakan benda dengan lukisan daerah tsb, menggunakan perangkat hasil seni bentuk daerah tsb dll. Tetapi berdasarkan pemantauan sang Awam ternyata sinergi pada kesenian malaysia tidaklah menyatu.
Selain itu coba liat seni tari yang dipromosikan oleh Malaysia ternyata adalah tari2 tradisional dari negeri2 lain seperti Cina, India dll (sudah jelas bahwa kekayaan seni disana hanyalah murni bawaan dari negara pendatang, yang notabene menjadi etnik2 yang dominan). Dengan tidak ada kesinambungan yang sepadan antara gabungan kesenian2 tsb berarti jelas kesenian yang ada merupakan sekedar tambal sulam. Kalau kita mau melihat tari tradisionil Cina atau India, untuk apa melihatnya di Malaysia (yang pasti sudah tidak asli lagi). Lebih baik lihat di Cina atau India, pasti jauh lebih bagus.
Seni tradisionil pasti merupakan karya masyarakat tradisionil. Dan masyarakat tsb pasti punya tempat tinggal. Dan lazimnya masyarakat tradisionil maka tempat tinggal yang mereka buat juga sangat unik dan beragam rumah adat seperti yang kita liat di banyak tempat di propinsi kita (atau utk mudahnya lihat saja keragaman rumah adat di TMII). Nah coba lihat malaysia, bangunan2 tradisionil apa yang dapat mereka banggakan? pasti minim sekali. Kalau ragam rumah adat saja sudah minim berarti minim budaya dan seni juga. Maka itu berarti seni yang ada semua adalah bukan seni asli daerah malaysia.
Kekurangan dalam budaya asli itulah yang menjadikan wisata Malaysia bukanlah menjadi prime destination bagi wisatawan internasional. Mereka pasti mengetahuinya. Dalam hal obyek wisata sudah jelas ranking Indonesia masih diatas Malaysia. Mungkin Malaysia menyadari hal tersebut tetapi begitu frustasi tidak tahu lagi bagaimana cara membangun daya tarik wisatanya. Menurut sang Awam hal itu sangat tercermin saat teroris asal Malaysia (Azahari) dikembalikan ke negaranya dalam bentuk mayat, terlihat di TV hampir semua penyambutnya gegap gempita saat mayat tersebut diturunkan dari pesawat seolah ia adalah sang pahlawan Malaysia. Bagaimana mungkin seorang teroris keji disambut dengan begitu gegap gempita seolah pahlawan layaknya?. Apa logika dibalik itu semua? coba kita ingat setelah Bom Bali yang kedua tersebut begitu banyak wisatawan Australia (dan wisatawan lain yang terkena Travel Warning ke Indonesia) dengan segala kesedihannya seolah kehilangan tempat berlibur lalu mencoba mencari alternatif tempat wisata. Yang mereka tuju saat itu adalah Malaysia. Jelas kehancuran Bali saat itu memberi nafkah bagi wisata Malaysia. Sedikit banyak Azahari (yg kini sudah jadi mayat tersebut) berjasa menolong masyarakat disana. Kita tidak pernah tau karena mungkin saja misi terselubung Azahari salah satunya adalah penghancuran wisata bali guna mengangkat wisata tanah air Azahari, agar wisatawan datang ke Malaysia. Mungkin itu yang menyebabkan ia seolah dianggap pahlawan oleh para penyambutnya.
Dan kenyataan berkata lain, nikmat yang mereka rasakan hal itu hanya berlangsung singkat. Pada musim libur berikutnya banyak wisatawan yang tidak lagi menuju Malaysia tetapi kembali ke Indonesia padahal masih ada Travel Warning yang sama utk tujuan Indonesia. Di bali sang Awam kebetulan berdiskusi dengan beberapa diantara wisatawan yang pernah ke Malaysia itu. Umumnya mereka mengutarakan bahwa di Malaysia hanya ada banyak pantai tetapi tidak ada keramahan dan kedamaian seperti yang mereka dapatkan di Indonesia. Begitupun kesenian yang ditawarkan tidak semenarik dan beragam seperti kesenian indonesia.
Mengingat pelajaran kuliah dulu (hehehe.. maklum Sang Awam dulu kuliah di Akademi Pariwisata) maka selain obyeknya, daya tarik wisata adalah budaya asli, bangunan (candi2, monumen2 tua, rumah2 adat dll) dan tentu legenda. Bahkan semakin unik dan tradisionil suatu tempat maka semakin tinggi daya tariknya. Mungkin Malaysia kini baru menyadari itu sehingga mereka sibuk mencari ke khasan budayanya. Dan kita tau salah satu ciri khas suatu budaya adalah lagu dan alat musik.
Tapi entah mengapa Malaysia mengincar Rasa Sayange dan Reog. Berhubung Sang Awam bukan Malaysia dan juga bukan pencuri budaya orang tentu Sang Awam tidak bisa menjawab alasan tersebut.
Memang, dengan memanfaatkan keserumpunan Malaysia dengan Indonesia (rumpun Melayu) sangat mungkin Malaysia mencoba menyeragamkan kesenian yang ada di Indonesia menjadi kesenian mereka juga. Tapi sang Awam yakin pasti ada cara untuk melakukan pembuktian tersebut.
Adapun yang kini menggelitik Sang Awam adalah justru polah bangsa kita sendiri. Begitu kaya kita atas segala budaya, alat musik, lagu2 tetapi saking begitu berlimpahnya maka kita sampai lupa untuk menetapkan hak milik kita. Kita begitu terlena karena budaya yang telah kita miliki dari jaman dahulu kala tersebut seolah sudah GIVEN from GOD, sampai kita tidak menghargainya sama sekali dengan bahkan tidak menetapkan secara hukum (agar tidak dicuri negara lain). Bagaikan orang yang kaya, begitu kayanya sampai ia tidak merasa perlu menentukan apa saja miliknya. Dan bahkan kurang menghargai. Sampai suatu saat ada yang "mencuri" barangnya baru ia tersadar bahwa kepemilikannya haruslah diperjelas.
Lalu bagaimana dengan nasib Naskah Kuno yang sudah beredar di masyarakat? bila kita tanyakan ke orang yang menjual tsb pasti kata dia itu adalah hak individu dia untuk menjualnya ke Malaysia. Nah yang perlu kita teliti tinggal melacak keabsahan pemilikan naskah kuno tsb. Kalau terbukti penjualnya pun tidak ada bukti kepemilikan yang sah atas benda tsb berarti ia bisa termasuk sebagai pencuri/penadah.
Lalu kenapa Malaysia membeli dari pencuri disini? YAH NAMANYA JUGA PENCURI pasti lah cuma bergaul dengan PENCURI dan bertransaksi barang dari para PENCURI juga.
Tanpa ada upaya Malaysia untuk mencuri beberapa kesenian kita itu coba kita lihat seberapa serius melestarikan atau mengukuhkan hak hukum kita atas semua kesenian tersebut? Seberapa besar porsi pelestarian budaya / lagu daerah di Media Televisi dg coverage Nasional ?.
Ok, semoga kelalaian kita dalam mengukuhkan kepemilikan kita atas budaya leluhur tersebut dapat segera teratasi sebelum lebih banyak kasus serupa menyeruak. Doa dan harapan sang Awam semoga pembuktian hak atas budaya kita pada Reog, lagu Rasa Sayange dan budaya kita lainnya akan dapat membuktikan siapakah Maling yang sebenarnya.
Atas setiap kejadian pencurian, Sang Awam hanya berpegang atas beberapa hal yang nyata berikut ini bahwa:
- Pencurian terjadi karena kelalaian pemilik dalam menjaga barangnya
- Tindakan mencuri pasti karena tidak punya barang yang dicurinya tersebut
- Pencuri (dimanapun) pasti berupaya untuk tidak mengakui bahwa ia pernah mencuri
- Pencuri kalau didiamkan pasti tidak pernah kapok dan akan kembali mencuri
- Kleptomania adalah pencuri yang tidak sadar bahwa dia adalah pencuri
- Hukuman bagi pencuri? karena kita orang beradab dan patuh hukum, jadi ikuti saja hukum yang berlaku
Blog ini pasti dibaca oleh para maling2, harapan sang Awam bagi para pencuri selalu hanya satu. Kembalilah kejalan yang benar, tidak pernah ada kata terlambat untuk menyesali perbuatan, menginsyafi dan tidak mengulanginya. Satu hal yang Malaysia lupa bahwa masyarakat internasional tidak bodoh dan tidak buta informasi. Mereka kelak tahu mana yang budaya asli dan mana budaya caplokan. Dan umumnya wisatawan budaya pasti lebih suka mengunjungi tempat yang nyata sebagai pemilik budaya asli. bukan budaya caplokan.
Salam,
Sang Awam