Blog EntryAWAM melihat tingkah MALAYSIADec 11, '07 7:15 AM
for everyone

Sang Awam dalam pencarian alasan dibalik tingkah Malaysia kepada Indonesia akhir-akhir ini. Bukan sekedar memaki2 seperti yang dilakukan banyak orang.

Seperti yang telah diutarakan oleh berbagai Media kita, Malaysia telah berupaya perampasan hak atas budaya kita yaitu lagu Rasa Sayange dan alat musik Reog. Selain itu ada berita juga bahwa Naskah2 kuno juga dibeli (atau curi?) dari masyarakat kita.  Pemerintah dan masyarakat kita tentu tersentak atas polah tersebut. Banyak pihak (yang bersimpati pada Indonesia) telah melakukan serangan terhadap Malaysia bahkan beberapa situs Malaysia dikerjai / disusupi (hacked). Sang Awam mengutarakan pelaku tersebut belum tentu orang indonesia tetapi pasti adalah pihak yang bersimpati pada Indonesia karena sampai saat ini tidak ada yang bisa memastikan bahwa penyusupan tersebut dilakukan oleh hacker asal Indonesia. Anyway, hal tersebut bukanlah hal yang akan dibahas.

Sewajarnya salah satu cara untuk membuat Maling jera adalah dengan mencuri miliknya bukan? Sehingga si Malingpun akan kehilangan. Nah tetapi coba kita lihat kenyataannya mengapa tidak ada diantara kita yang berfikiran untuk juga mencuri budaya Malaysia? Sang Awam lalu mencoba berfikir (dan anda coba juga berfikir). Kira2 budaya apa yang menarik untuk dicuri dari Malaysia? Sang Awam yakin Anda pasti tidak akan menemukannya. Mengapa sampai seperti itu? Disadari atau tidak ternyata memang tidak ada budaya Malaysia yang menarik, semenarik budaya negara asia lainnya.

Coba lihat iklan wisata yang banyak ditayangkan di media ataupun brosur. Apa yang selalu ditampilkan? YA ANDA BETUL. hanya menara kembar petronas. Lantas apalagi? YA, ANDA BETUL LAGI gambar Kuala Lumpur (KL) dengan background monorail. So apakah wisata Malaysia hanya KL ? Negara yang disebut sebagai Negara 9 Negeri ternyata hanya Negara 1 Kota ? Daya tarik yang coba ditonjolkan malaysia hanyalah mall2 tempat shopping dan tempat hiburan yang mana hal tersebut sudah banyak di Indonesia. Mungkin malaysia ingin mengalihkan daya tarik Singapore dalam hal obyek ber-shopping-ria. Tapi sepertinya Malaysia had too far dreaming on it. Karena menurut sang Awam dalam hal surga Shopping maka Malaysia nggak ada apa2nya dibandingkan dengna Singapore yang tidak tertandingi.

Kini anda bandingkan dengan brosur wisata Indonesia, Thailand, India, Sri lanka, Myanmar dll. Semua menampilkan pegunungan yang indah, pantai yang menggoda, bangunan sejarah yang menarik, legenda yang mengiring setiap obyek wisata alam, Kesenian asli daerah, Bangunan2 Kuno dan tentunya wajah penduduk asli yang beragam tetapi dengan satu kesamaan yaitu Keramahan Suku Asli.


Memang sebenarnya ada beberapa obyek wisata di Malaysia yang menarik. Namun bila ditampilkan dengan wajah mereka langsung terlihat bahwa tempat tersebut menjadi tidak menarik lagi. Sudah bukan menjadi rahasia bahwa perangai masyarakat Malaysia sangat tidak semenarik masyarakat Indonesia. Dan multi-etnik yang diberlakukan di malaysia justru menjadi boomerang karena mereka semakin kehilangan identitas bagaimana wajah asli bangsa mereka?

Tidak seperti di indonesia, pada kenyataannya kita pun sudah multi etnis namun kita tetap bisa melihat kekhasan wajah, tutur wicara, kesenian dari keragaman suku kita. Dan keramahan bangsa kita tidak hanya di Bali. Pada semua propinsi kita bisa merasakan keramahan tersebut.

Selain itu, bicara soal daya tarik wisata dimanca negara berarti bicara soal kesenian asli daerah tersebut. Dan namanya kesenian asli selalu ada sinergi antara seni tari, seni bela diri, seni lukis, seni dandan, seni bentuk (pahat, ukir), seni bangunan dll. Contoh pada seni beladiri atau seni tari yang asli pasti mengunakan benda dengan lukisan daerah tsb, menggunakan perangkat hasil seni bentuk daerah tsb dll. Tetapi berdasarkan pemantauan sang Awam ternyata sinergi pada kesenian malaysia tidaklah menyatu.

Selain itu coba liat seni tari yang dipromosikan oleh Malaysia ternyata adalah tari2 tradisional dari negeri2 lain seperti Cina, India dll (sudah jelas bahwa kekayaan seni disana hanyalah murni bawaan dari negara pendatang, yang notabene menjadi etnik2 yang dominan). Dengan tidak ada kesinambungan yang sepadan antara gabungan kesenian2 tsb berarti jelas kesenian yang ada merupakan sekedar tambal sulam.  Kalau kita mau melihat tari tradisionil Cina atau India, untuk apa melihatnya di Malaysia (yang pasti sudah tidak asli lagi).  Lebih baik lihat di Cina atau India, pasti jauh lebih bagus.

Seni tradisionil pasti merupakan karya masyarakat tradisionil.  Dan masyarakat tsb pasti punya tempat tinggal.  Dan lazimnya masyarakat tradisionil maka tempat tinggal yang mereka buat juga sangat unik dan beragam rumah adat seperti yang kita liat di banyak tempat di propinsi kita (atau utk mudahnya lihat saja keragaman rumah adat di TMII).  Nah coba lihat malaysia, bangunan2 tradisionil apa yang dapat mereka banggakan? pasti minim sekali.  Kalau ragam rumah adat saja sudah minim berarti minim budaya dan seni juga.  Maka itu berarti seni yang ada semua adalah bukan seni asli daerah malaysia.

Kekurangan dalam budaya asli itulah yang menjadikan wisata Malaysia bukanlah menjadi prime destination bagi wisatawan internasional. Mereka pasti mengetahuinya. Dalam hal obyek wisata sudah jelas ranking Indonesia masih diatas Malaysia. Mungkin Malaysia menyadari hal tersebut tetapi begitu frustasi tidak tahu lagi bagaimana cara membangun daya tarik wisatanya. Menurut sang Awam hal itu sangat tercermin saat teroris asal Malaysia (Azahari) dikembalikan ke negaranya dalam bentuk mayat, terlihat di TV hampir semua penyambutnya gegap gempita saat mayat tersebut diturunkan dari pesawat seolah ia adalah sang pahlawan Malaysia. Bagaimana mungkin seorang teroris keji disambut dengan begitu gegap gempita seolah pahlawan layaknya?. Apa logika dibalik itu semua? coba kita ingat setelah Bom Bali yang kedua tersebut begitu banyak wisatawan Australia (dan wisatawan lain yang terkena Travel Warning ke Indonesia) dengan segala kesedihannya seolah kehilangan tempat berlibur lalu mencoba mencari alternatif tempat wisata. Yang mereka tuju saat itu adalah Malaysia. Jelas kehancuran Bali saat itu memberi nafkah bagi wisata Malaysia. Sedikit banyak Azahari (yg kini sudah jadi mayat tersebut) berjasa menolong masyarakat disana. Kita tidak pernah tau karena mungkin saja misi terselubung Azahari salah satunya adalah penghancuran wisata bali guna mengangkat wisata tanah air Azahari, agar wisatawan datang ke Malaysia. Mungkin itu yang menyebabkan ia seolah dianggap pahlawan oleh para penyambutnya.

Dan kenyataan berkata lain, nikmat yang mereka rasakan hal itu hanya berlangsung singkat. Pada musim libur berikutnya banyak wisatawan yang tidak lagi menuju Malaysia tetapi kembali ke Indonesia padahal masih ada Travel Warning yang sama utk tujuan Indonesia. Di bali sang Awam kebetulan berdiskusi dengan beberapa diantara wisatawan yang pernah ke Malaysia itu. Umumnya mereka mengutarakan bahwa di Malaysia hanya ada banyak pantai tetapi tidak ada keramahan dan kedamaian seperti yang mereka dapatkan di Indonesia. Begitupun kesenian yang ditawarkan tidak semenarik dan beragam seperti kesenian indonesia.

Mengingat pelajaran kuliah dulu (hehehe.. maklum Sang Awam dulu kuliah di Akademi Pariwisata) maka selain obyeknya, daya tarik wisata adalah budaya asli, bangunan (candi2, monumen2 tua, rumah2 adat dll) dan tentu legenda. Bahkan semakin unik dan tradisionil suatu tempat maka semakin tinggi daya tariknya. Mungkin Malaysia kini baru menyadari itu sehingga mereka sibuk mencari ke khasan budayanya. Dan kita tau salah satu ciri khas suatu budaya adalah lagu dan alat musik.

Tapi entah mengapa Malaysia mengincar Rasa Sayange dan Reog. Berhubung Sang Awam bukan Malaysia dan juga bukan pencuri budaya orang tentu Sang Awam tidak bisa menjawab alasan tersebut.

Memang, dengan memanfaatkan keserumpunan Malaysia dengan Indonesia (rumpun Melayu) sangat mungkin Malaysia mencoba menyeragamkan kesenian yang ada di Indonesia menjadi kesenian mereka juga. Tapi sang Awam yakin pasti ada cara untuk melakukan pembuktian tersebut.

Adapun yang kini menggelitik Sang Awam adalah justru polah bangsa kita sendiri. Begitu kaya kita atas segala budaya, alat musik, lagu2 tetapi saking begitu berlimpahnya maka kita sampai lupa untuk menetapkan hak milik kita. Kita begitu terlena karena budaya yang telah kita miliki dari jaman dahulu kala tersebut seolah sudah GIVEN from GOD, sampai kita tidak menghargainya sama sekali dengan bahkan tidak menetapkan secara hukum (agar tidak dicuri negara lain). Bagaikan orang yang kaya, begitu kayanya sampai ia tidak merasa perlu menentukan apa saja miliknya. Dan bahkan kurang menghargai. Sampai suatu saat ada yang "mencuri" barangnya baru ia tersadar bahwa kepemilikannya haruslah diperjelas.
Lalu bagaimana dengan nasib Naskah Kuno yang sudah beredar di masyarakat? bila kita tanyakan ke orang yang menjual tsb pasti kata dia itu adalah hak individu dia untuk menjualnya ke Malaysia.  Nah yang perlu kita teliti tinggal melacak keabsahan pemilikan naskah kuno tsb.  Kalau terbukti penjualnya pun tidak ada bukti kepemilikan yang sah atas benda tsb berarti ia bisa termasuk sebagai pencuri/penadah.

Lalu kenapa Malaysia membeli dari pencuri disini?  YAH NAMANYA JUGA PENCURI pasti lah cuma bergaul dengan PENCURI dan bertransaksi barang dari para PENCURI juga.

Tanpa ada upaya Malaysia untuk mencuri beberapa kesenian kita itu coba kita lihat seberapa serius melestarikan atau mengukuhkan hak hukum kita atas semua kesenian tersebut? Seberapa besar porsi pelestarian budaya / lagu daerah di Media Televisi dg coverage Nasional ?.

Ok, semoga kelalaian kita dalam mengukuhkan kepemilikan kita atas budaya leluhur tersebut dapat segera teratasi sebelum lebih banyak kasus serupa menyeruak. Doa dan harapan sang Awam semoga pembuktian hak atas budaya kita pada Reog, lagu Rasa Sayange dan budaya kita lainnya akan dapat membuktikan siapakah Maling yang sebenarnya.

Atas setiap kejadian pencurian, Sang Awam hanya berpegang atas beberapa hal yang nyata berikut ini bahwa:

  • Pencurian terjadi karena kelalaian pemilik dalam menjaga barangnya
  • Tindakan mencuri pasti karena tidak punya barang yang dicurinya tersebut
  • Pencuri (dimanapun) pasti berupaya untuk tidak mengakui bahwa ia pernah mencuri
  • Pencuri kalau didiamkan pasti tidak pernah kapok dan akan kembali mencuri
  • Kleptomania adalah pencuri yang tidak sadar bahwa dia adalah pencuri
  • Hukuman bagi pencuri? karena kita orang beradab dan patuh hukum, jadi ikuti saja hukum yang berlaku

Blog ini pasti dibaca oleh para maling2, harapan sang Awam bagi para pencuri selalu hanya satu. Kembalilah kejalan yang benar, tidak pernah ada kata terlambat untuk menyesali perbuatan, menginsyafi dan tidak mengulanginya.  Satu hal yang Malaysia lupa bahwa masyarakat internasional tidak bodoh dan tidak buta informasi.  Mereka kelak tahu mana yang budaya asli dan mana budaya caplokan.  Dan umumnya wisatawan budaya pasti lebih suka mengunjungi tempat yang nyata sebagai pemilik budaya asli.  bukan budaya caplokan.

 

Salam,
Sang Awam


19 CommentsChronological   Reverse   Threaded
moviefreak wrote on Dec 11, '07
Coba baca ini, Bah.....curahan perasaan orang awam, yang mungkin jumlahnya lumayan banyak, dibanding yang sudah cukup dewasa dan bisa menerima kenyataan hidup yang pahit...*loohhh, kok jadi curhat*

http://youandmeversustheworld.wordpress.com/2007/10/12/surat-kepada-sahabatku-malaysia/
konefly wrote on Dec 12, '07
Hehehehe......!!
Mungkin kita sudah terlalu kaya akan budaya....sehingga terlupa akan sumber yg ada....atau mungkin kita tidak tau/kurang menyadari bahwa kita kaya ...... atau mungkin terlalu buanyak yang kita pikirkan sehingga ada hal lain yg terlewatkan.....tapi suatu hal yang penting menurut saya adalah kejadian ini memberikan pembelajaran yg suangat bagus buat kita semua........!!!
Tulisan ini tak khan ada kalau Malasya tdk mencuri dari kita........hehehehe......????
vinke wrote on Dec 12, '07, edited on Dec 12, '07
Halaaah... Petronas juga hasil karya Achmad Moerdijat anak negri asli Indonesia lulusan ITB... huh! Tuh candi Borobudur juga... kalo bisa di knowckdown udah abis diangkut ke Johor. Kenapa? Karena disana nggak ada bangunan bersejarah apalagi yg umurnya lewat 1000tahun!!!

We're rich, tapi sayang banyak tikus disini yg haus duit (lebih banyak jumlahnya dari koruptor di nagari Malingsiah). Naskah Melayu Riau pedalaman dan naskah kerajaan Buton dicuri, yg nyuri nggak tanggung2 profesor yg asli orang Malingsiah dan ketangkep basah!! Kaum intelek Malingsiah gituloh juga jadi maling. Sayang tu profesor dilepasin dan nggak disita hasil pemotretan2nya. Anak2.. sebutkan hasil import Malingsiah ke Indonesia! "Aku tau buuuu... teroris, bandar ekstasi & profesor2 maling"

Kata gue mah perang ajah, pemerintah kurang galak. Tau nggak pemerintah tu? Malingsiah pan cuma beda tipis ma Israel, yg atu nyolong tanah Palestina, yg atunya lage nyolongin pulau, kesenian dan kebudayaan negara tetangga.

Pasti abis gue nulis ini selalu ada orang Indonesia yg pro Malaysia bilang, bahwa reaksi dan bahasa seperti gue ini tidak educated.. educated.. edjakulasi kaleeee... ndasmu mlocot cong *lepasiiiiin lepasiiiiiin*

awam wrote on Dec 13, '07, edited on Dec 13, '07
Coba baca ini, Bah.....curahan perasaan orang awam, yang mungkin jumlahnya lumayan banyak, dibanding yang sudah cukup dewasa dan bisa menerima kenyataan hidup yang pahit...*loohhh, kok jadi curhat*

http://youandmeversustheworld.wordpress.com/2007/10/12/surat-kepada-sahabatku-malaysia/
barusan abah baca.. bagus yah.. MENGENA SEKALEE... btw tolong sampaikan ke dia mengenai ini ".. Di lebaran nanti kamu pakai apa? Tentu kamu akan pakai batik motif perang itukan?..." setahu abah istilah batik model tsb bukan Perang tapi Parang. Salah satunya malah namanya Parang Rusak, tapi motifnya bagus.
awam wrote on Dec 13, '07
vinke said
ndasmu mlocot cong *lepasiiiiin lepasiiiiiin*
wih .. pemikiran vinke mantap dan mengena tuh... tapi asik bisa melegakan justru dengan Fine Ending spt itu.. abah yang nggak ngerti mlocot aja ampe terpingkal2... kira2 mlocot itu artinya "mencuat lepas" yah?
t4mp4h wrote on Dec 14, '07
saya suka analisanya...
awam wrote on Dec 14, '07
t4mp4h said
saya suka analisanya...
thanks
enkoos wrote on Dec 14, '07
Mantap bang. Salam kenal nggih.
Kelakuan Malaysia akhir2 ini setidaknya membawa dampak positif bagi rakyat Indonesia. Sudahkan kita melindungi budaya anak negeri dengan semestinya? Kesenian daerah yang hidupnya kembang kempis karena kekurangan penonton. Bertolak belakang dengan maraknya pemusik asing yang harga tiketnya menguras kantong tetapi penontonnya berjubel. Ironis ya?
Makanan tradisional mulai terpinggirkan, kalah populer dengan makanan asing yang merajalela.
Menyukai makanan asing nggak salah. Menggemari musing asing juga sah sah aja. Tapi please, cintailah budaya kita sendiri. Kalau tahu Indonesia kaya, gunakanlah itu. Baju batik jangan dipake kalau kondangan doang. Dipake sehari hari juga keren boo. Musim dingin bersarung batik? Sapa takut. Keren bo. Nggak takut dingin? Sebelum sarungan, kan pake celana berlapis lapis. Penampilan jadi kayak lepet? nggak tuh.
Kain tenun terlihat eksotis, dipake sarungan juga keren.

Kalau kesenian dan kebudayaan tumbuh subur di tanah sendiri, yang mau nyolong juga mikir2. Kalaupun nekat nyolong, babak bundas wes.
Lagian, yang namanya budaya kok dipatenkan ya? Kurang kerjaan.

moviefreak wrote on Dec 16, '07
enkoos said
Makanan tradisional mulai terpinggirkan, kalah populer dengan makanan asing yang merajalela
Lam kenal....kalo liat fenomena belakangan ini, makanan asli Indonesia lagi naik daun....salah satu 'pendukungnya' adalah maraknya acara2 yg bertema kuliner yang sebagian besar membahas kuliner Indonesia. Sudah banyak penjual makanan asli Indonesia yang 'bangkit' karena dampak positif acara ini. Food court2 di mall2 besar di Jakarta kebanyakan malah menjual makanan asli Indonesia. Coba aja cek di Pasaraya, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, dll...

Soal musik, ini lebih jelas lagi. Walaupun bukan musik tradisional, tetapi musik pop Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan sudah merambah ke negara tetangga, seperti Singapura, Brunei dan bahkan Malaysia...Penjualan album para penyanyi Indonesia, termasuk grup bandnya mencatat angka fantastis, malah ada satu grup band yg mencatat penjualan di angka 2 juta copy, diluar bajakan. Dan fenomena ini mendorong para anak muda Indonesia untuk terus berkarya, dan dapat dilihat dari banyaknya penyanyi baru dan grup2 band baru yg bermunculan.
enkoos wrote on Dec 16, '07
Lam kenal....kalo liat fenomena belakangan ini, makanan asli Indonesia lagi naik daun....salah satu 'pendukungnya' adalah maraknya acara2 yg bertema kuliner yang sebagian besar membahas kuliner Indonesia. Sudah banyak penjual makanan asli Indonesia yang 'bangkit' karena dampak positif acara ini. Food court2 di mall2 besar di Jakarta kebanyakan malah menjual makanan asli Indonesia. Coba aja cek di Pasaraya, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, dll...
Syukurlah kalau makanan asli Indonesia mulai bangkit. Mudah2an nggak hanya Jakarta, tetapi merambah ke kota kota besar lainnya seperti Surabaya.
Kesenian musik tradisional nih yang perlu digiatkan lagi. Jaman dulu, keroncong sangat populer. Bahkan ada lomba2nya segala. Begitu juga seni rakyat yang lain yang daftarnya cukup panjang kalau disebut satu persatu. Contohnya Lenong Betawi. Rasanya dulu saya sering menonton di televisi, tetapi lamaaaa sekali saya nggak pernah ngeliat lagi. Kelelep ama sinetron2 sampah dan tayangan gosip nggak mutu. Sempat timbul dengan dimodifikasi menjadi Lenong Rumpi.
awam wrote on Dec 17, '07, edited on Dec 17, '07
enkoos said
Kesenian daerah yang hidupnya kembang kempis karena kekurangan penonton. Bertolak belakang dengan maraknya pemusik asing yang harga tiketnya menguras kantong tetapi penontonnya berjubel. Ironis ya?
Salam kenal juga mas Engkoos, fenomena tsb menurut pemikiran awam saya adalah karena masyarakat kita (kota) dalam segala hal selalu terpacu hal yang sifatnya ngetrend. dan ada kebanggaan yang EXTRA untuk menjadi yang pertama atau "yang pernah", karena yang dalam pergaulan bisa menceritakan hal2 diatas maka dia yang akan otomatis dipandang teman2nya. Sehingga tontonan seorang pemusik asing yang bagus dimana bisa dibilang belum tentu 5 tahun sekali ia datang maka sekali datang langsung pada berjubel nonton dengan karcis berapapun dibayar (kalau mampu ya why not). Sedangkan kesenian daerah kan kapanpun bisa ditonton (karena milik kita).
Tapi soal itu kita tidak bisa menyalahkan siapa2, toh ini bicara soal selera dan juga bukan berarti penonton pemusik asing tsb tidak aware dengan budaya daerah, abah yakin diantara mereka ada banyak juga pelestari budaya daerah.

Soal musik, banyak juga pemusik2 yang menggabungkan alat musik daerah dengan alat musik modern, saya melihat hal ini tetap merupakan pelestarian.

Menurut awam saya wajar kita berharap skalipun MUNGKIN kurang diminati seluruh warga setidaknya suatu kesenian tetap dilestarikan oleh daerah masing2 dan dikuatkan secara hukum. dengan demikian kesenian tsb menjadi tuan rumah di propinsinya masing2 dan tidak diakui sebagai budaya negara lain.
awam wrote on Dec 17, '07
enkoos said
Baju batik jangan dipake kalau kondangan doang. Dipake sehari hari juga keren boo. Musim dingin bersarung batik? Sapa takut. Keren bo. Nggak takut dingin? Sebelum sarungan, kan pake celana berlapis lapis
Simbolisme batik sebagai pakaian nasional kita sudah bagus kok. Kalau kita perhatikan pada hari jumat dimana umumnya orang kantoran boleh berpakaian casual maka para executive umumnya memilih pakai batik. Dan dalam hal batik atau tenun ikad inipun sebenarnya kita hanya menasionalkan budaya suatu propinsi, padahal banyak propinsi lain yang bisa menjadikan adat berpakaiannya ke forum resmi atau gaul (terkecuali koteka karena diforum resmi mentri2 pake koteka kan agak2 gimanaaa geetooh).

awam wrote on Dec 17, '07
enkoos said
Musim dingin bersarung batik? Sapa takut. Keren bo.
yoi bangeet bruuurr.... mau nambahin lagi nih hari ini di Detik ada berita membanggakan dari Praha, ceko dimana batik kita diterima hangat disana...

nih URLnya.
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/18/time/085344/idnews/868495/idkanal/10

saat orang menghargai tradisi kita pasti di hati terdalamnya mengagumi budaya kita juga.. karena budaya kita asli.. bukan caplokan... ;))
edwinlives4ever wrote on Apr 11
awam said
iklan wisata yang banyak ditayangkan di media ataupun brosur. Apa yang selalu ditampilkan? YA ANDA BETUL. hanya menara kembar petronas. Lantas apalagi? YA, ANDA BETUL LAGI gambar Kuala Lumpur (KL) dengan background monorail. So apakah wisata Malaysia hanya KL ? Negara yang disebut sebagai Negara 9 Negeri ternyata hanya Negara 1 Kota ? Daya tarik yang coba ditonjolkan malaysia hanyalah mall2 tempat shopping dan tempat hiburan yang mana hal tersebut sudah banyak di Indonesia.
A truly accurate analysis, Boss! I run a travel business, and I remember my Austrian partner saying things like this: "Visiting Malaysia once is more than enough, but I just can't have enough visiting Indonesia."
awam wrote on Apr 14
A truly accurate analysis, Boss! I run a travel business, and I remember my Austrian partner saying things like this: "Visiting Malaysia once is more than enough, but I just can't have enough visiting Indonesia."
wih... ajegile.. ampe segitunya ya boss... iya lah, sepertinya kunci dari wisata bukan semata fasilitas dll. tapi lebih utama nature, budaya dan keramahan penduduk.
menurut info dari negara tsb, katanya tahun ini mrk membukukan kesuksesan wisata, dan alesannya karena fasilitas transportasi mrk yang sangat terintegrasi serta keunikan kerukunan budaya antar 3 etnik (melayu, cina dan india) yang harmonis berdampingan.
hihihihi bisa2nya bilang harmonis yah? padahal jelas2 di media ditayangkan maraknya demo etnik india disana karena tidak ada kesetaraan.

btw kok mrk gak bisa bilang obyek wisata (budaya dan seni) apa disana yang sangat unik? jawabnya.. "mungkin" enteu aya pisan eeuyy... hhehehehehe
edwinlives4ever wrote on Apr 14
awam said
btw kok mrk gak bisa bilang obyek wisata (budaya dan seni) apa disana yang sangat unik?
Well, it's hard for them to be unique, since whatever they have, we also do. Not exactly the same, but similar. Take the Orangutan Rehabilitation Center in Tanjung Puting for example. Most of my Spanish, German & Austrian clients who have visited this place have also visited the Malaysian counterpart. They love Tanjung Puting better, as the Malaysian counterpart rely too much on technology, while ours looks more natural.
awam wrote on Apr 16
They love Tanjung Puting better, as the Malaysian counterpart rely too much on technology, while ours looks more natural.
ngutip kalimat ini, menurut abah 99% pencinta binatang pasti seorang penyayang alam.. karena mrk tau binatang itu ya habitatnya di alam. nah kalau sampai berangkat bermil2.. dari belahan dunia laen pula.. tentu mrk akan menganggap (karena gak bisa nanya langsung ke orangutannya haha) bahwa si orangutan pasti lebih comfort untuk idup pada natural environment.. ya gak sih? pendapat abah bener gak mas edwin?
rddriesner wrote on May 4
Bagus artikelnya...MAJULAH INDONESIA NEGERI TERCINTA... I LOVE SO MUCH INDONESIA ...walaupun suka sedih banget dengan kondisinya...kesejahteraan masyarakatnya yang kurang...
awam wrote on May 6
Bagus artikelnya...MAJULAH INDONESIA NEGERI TERCINTA... I LOVE SO MUCH INDONESIA ...walaupun suka sedih banget dengan kondisinya...kesejahteraan masyarakatnya yang kurang...
yah kita tetap berharap dan optimis bahwa hari esok akan lebih baik daripada hari ini bukan..
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help