Terkadang orang menjadikan agama sebagai suatu label atau bahkan semacam freepass utk masuk Surga. Tetapi pernahkah kita mencoba mengulas agama lebih luas lagi? Semoga dengan topik ini kita yang sama2 sedang belajar mendalami agama dapat lebih memahaminya.
Pada dasarnya manusia memiliki modal akan ajaran kebaikan dan kebenaran, modal tersebut bernama Nurani (baca AWAM menyentuh NURANI) yang sejatinya cukup untuk menjalani hidup.
Selain Nurani, manusia juga memiliki modal lain untuk menjalani hidup yakni dengan Akal (baca AWAM menyentuh AKAL).
Lalu apa gunanya agama? sang Awam berpendapat bahwa ajaran agama (yang benar) adalah panduan yang diberikan oleh Sang Khaliq agar manusia dapat terus hidup secara dekat dengan nuraninya tetapi melalui jalur akal (karena diberikan berupa cerita, ketentuan, hubungan sebab-akibat dan hal2 lainnya yang bisa diterima oleh nalar dan logika awam manusia). Bisa dikatakan bahwa agama adalah pengimbang atau jembatan antara Nurani dan Akal.
Sang Awam meyakini bahwa ajaran agama adalah suatu panduan. Agama bukanlah suatu hadiah dan bukan berkah, melainkan pilihan untuk menjalani hidup seorang manusia. Ingatkah kita bahwa saat dilahirkan ke dunia seorang bayi tidak menganut agama apapun. Adapun yang mengendalikan si bayi adalah Nuraninya. Sehingga kita melihat sendiri bahwa si kecil (tanpa ada yang mengajari sama sekali) sering kali sudah mampu melakukan hal yang baik (secara Nurani dan Akal). Lalu seiring pertumbuhan si bayi mau tidak mau ia ditanamkan paham2 agamis yang dianut orang tuanya atau yang dominan di lingkungan si kecil itu. Sampai saatnya ia beranjak dewasa maka manusia mulai bisa menentukan sendiri apakah ia masih merasa cocok atas ajaran tersebut ataukah mencari agama lain? Ada beragam kemungkinan alasan orang berpindah agama. Dan menurut sang Awam alasan tersebut bisa dibagi dalam 2 kelompok, yaitu Nurani ataupun Akal.
Yang pindah karena terketuk Nuraninya, antara lain karena:
- Agama yang baru lebih memberikan ketenangan
- Agama yang baru semakin banyak menunjukan kebenarannya
- Agama yang lama semakin digali semakin terasa kedangkalannya
- dll
Yang pindah berdasarkan Akal, antara lain karena:
- Karena disyaratkan kalau mau menikah harus mengikuti ajaran agama yang dianut pasangan.
- Karena melihat banyak kemudahan pada agama yang baru (contoh seperti yang dimingkan suatu ajaran AGAMA BARU, yang terakhir dinyatakan bahwa agama tsb sesat)
- Karena sekedar kepentingan finansial pribadi (ada cerita seseorang pindah agama hanya karena dilingkungan kerjanya yang bisa naik pangkat adalah agama tertentu)
- Karena melihat suatu kesempatan memperoleh keuntungan dari public exposure
- dll
Menurut sang Awam, alasan yang lebih mulia diantara keduanya adalah yang pindah karena ketukan Nurani. Namun sekalipun demikian kita, sebagai sesama manusia, tidak berhak menilai bahwa ia telah berpindah ke agama yang salah atau sebaliknya. Mengapa? karena kita hanya manusia.
Seseorang yang menjalankan suatu agama tertentu hanya karena given (sebagai ajaran turunan dari orang tuanya) maka belum tentu dapat ia jalankan dengan benar apabila tidak dijalankan dengan pengimbangan Nurani dan Akal.
Semua ajaran agama pada umumnya mengarahkan atau menjelaskan kepada manusia mengenai apa yang baik maupun tidak baik, yang benar maupun yang salah baik lisan, tulisan maupun perbuatan. Dimana setiap agama yang baik dengan caranya masing-masing telah mengajarkan kepada umat manusia bagaimana cara hidup, cara bersosialisasi, berdagang, berperilaku dll sesuai dengan cara yang DIYAKINI sebagai cara yang benar pada agama tersebut. Dan dengan bermodalkan panduan dari agama tersebut banyak pula bukti bahwa bila diamalkan oleh umatnya sesuai dengan amanah agama tersebut maka semua akan baik-baik saja.
Sang Awam mencoba merangkumkan pada suatu arti bahwa agama pada akhirnya adalah suatu ajaran untuk kembali kepada Sang Khaliq dengan cara berbuat kebaikan semasa didunia. Tetapi sepertinya banyak yang memandang lain. Seolah Mereka, para umat, hidup sesuai ajaran agamanya hanyalah semata sebagai upaya dia untuk mencapai Surga (baca AWAM mengartikan SURGA). They treat a RELIGION only as kind of a Freepass to Heaven :)
Padahal sebenarnya, sesuai keyakinan sang Awam, inti manfaat agama bukanlah sekedar agar mencapai Surga saja tetapi yang terutama justru sebagai modal, sebagai panduan, untuk hidup didunia secara benar, dapat bermasyarakat dengan benar, merawat bumi dengan benar. Adapun surga adalah imbalan dari kebaikan dan ketaatan kita padaNYA, tetapi bukan inti dari tujuan Sang Khaliq memberikan kita panduan tersebut (agama).
Dan pada intinya semua ajaran agama banyak kesamaannya. Sebagai contoh coba cari 2 orang rekan anda (sebut saja si A dan B) lalu tanyakan kepada mereka:
- Bagaimana cara meraih benda yang sedikit lebih tinggi dari mereka? jawabannya adalah sama yakni dengan berjinjit atau meloncat atau menumpu pada benda yg lebih tinggi.
- Bagaimana agar paru2 tidak kemasukan air saat kita dibawah air? jawabannya adalah sama yakni Tahan Napas (kecuali yang pakai alat SCUBA)
- Bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain? jawabannya adalah: menggunakan bahasa/cara yang kira2 dipahami oleh kedua belah pihak.
- Bagaimana cara mereka makan? mungkin jawabannya akan berlainan tergantung budaya masing2 tetapi A tidak berkeberatan mencoba cara makan B dan begitupun sebaliknya.
- Mengapa kita belajar? jawaban semuanya sama: AGAR MENDAPAT ILMU YANG BERMANFAAT
Itu jawaban yang sama atas pertanyaan2 simpel bukan?, baiklah kita lanjutkan dengan mencoba bertanya kepada masing2 orang yang agamanya berbeda2:
-
Baik kah bila kita makan secara berlebihan? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!!
-
Baik kah bila kita memaki orang? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!!
-
Baik kah bila kita berbohong? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!!
-
Baik kah bila kita mencuri? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!!
-
Baik kah bila kita memfitnah orang? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!!
-
Baik kah bila kita menyusahkan orang? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!!
-
Perlukah kita menolong orang yang susah? jawaban semuanya sama: PERLU!!
-
Perlukah kita bertutur kata yang baik? jawaban semuanya sama: PERLU!!
-
Perlukah kita menjaga kesehatan? jawaban semuanya sama: PERLU!!
-
Wajarkah orang yang salah dihukum? jawaban semuanya sama: WAJAR!!
-
Bisakah orang yang bertaubat dosanya dimaafkan? jawaban semuanya sama: BISA!!
-
Baik kah bila kita menggunakan Narkoba? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!!
-
Baik kah bila kita menyalahgunakan wewenang? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!!
-
Apa yang harus kita lakukan bila menyakiti orang? jawaban semuanya sama: MINTA MAAF!!
-
Boleh kah semena2 memperlakukan binatang? jawaban semuanya sama: TIDAK!!
-
Boleh kah kita mengumbar amarah? jawaban semuanya sama: TIDAK!!
-
Apa yang harus dilakukan terhadap alam? jawaban semuanya mirip: DIRAWAT, DIJAGA DAN DILESTARIKAN!!
-
Boleh kah kita mendendam? jawaban semuanya sama: TIDAK!!
Dan masih banyak contoh pertanyaan serupa lainnya yang sang Awam yakini jawabannya ada persamaan. Berarti pada INTInya ajaran Agama yang benar untuk kita dapat hidup didunia adalah sama.
Tetapi karena suatu agama diyakini kebenarannya oleh si A sedangkan si B meyakini agama lain, kini coba tanyakan kepada mereka kembali:
- Mana agama yang benar?
- Siapa Tuhan yang benar?
- Bagaimana cara beribadah yang benar ?
- dll.
Maka setiap penganut agama yang berbeda tentu beda pula jawabannya. Dan atas keyakinan si A maka ia bisa dipastikan tidak mengakui jawaban si B begitupun sebaliknya.
Kini coba cara lain: Coba pembaca pergi ke tempat umum / publik untuk melihat ragam orang (saat sedang tidak beribadah). Misal di Cafe, di Mall, di rumah sakit dll. Anda pasti sulit untuk dapat memastikan agama yang dianut masing2 orang tersebut bukan? Satu hal yang dapat membedakan Agama seseorang bukanlah dari raut wajah, cara berjalan, bicara, makan, duduk, berlari, tertawa, menangis, marah dll melainkan hanya dari cara mrk berdandan yang berkaitan dg ibadah mereka masing.
Dari sample yang simple ini kita bisa mencoba menarik garis lurus bahwa yang membedakan antara agama yang satu dengan yang lainnya ternyata hanya satu hal yang saat hal tsb dilakukan tidak ada hubungan atau tidak mengganggu kegiatan orang lain yaitu saat kita berbicara, berdoa, memohon pada Yang Satu, Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta yaitu Sang Khaliq. Dalam berhubungan denganNYA itulah masing2 agama mensyaratkan aturannya sendiri2. Tentu dibalik setiap aturan tersebut pasti adalah maksud dan tujuan.
Banyak yang berkeyakinan bahwa Agama apapun penciptanya hanya satu, Sang Khaliq. Sang Awampun berkeyakinan yang sama. Hal lain yang membedakan satu umat Agama dengan yang lainnya adalah tata cara dan pantangannya dalam berperilaku atau berinteraksi dengan manusia dan alam. Kembali hal itu memang ada alasan bagi masing2 Agama yang pada umumnya adalah menjaga kesehatan manusia atau menjaga diri dari hal yang cenderung tidak baik atau bersifat maksiat.
Seperti yang sang Awam sudah utarakan diatas bahwa secara hakiki cara beribadah masing2 umat TIDAK pernah mengganggu manusia lainnya. Karena umumnya dilakukan pada tempat yang sepi / menyendiri atau di tempat2 ibadah. Memang betul setiap rumah2 ibadah membuat bunyi2an. Adzan & Bedug pada Islam, Lonceng pada Kristen, Buddha dll. Tetapi perlu kita ingat bahwa bunyi2an tersebut hanyalah sebagai MEDIA untuk memanggil umat sebagai pertanda bahwa telah tiba waktu peribadatan. Memang ada banyak mesjid yang saat beribadah sang Imam dipakaikan speaker sehingga suaranya keras menyebar. Kaidahnya suara speaker tersebut sebenarnya hanya perlu diatur sebatas peserta ibadah pada saat itu saja dg tujuan agar gerakan peribadatan dilakukan secara serentak. Memang ada bbrp kalangan (umumnya bule) yang protes mengapa mesjid volumenya sangat keras. Sebenarnya hal itu bukanlah anjuran dari ajaran Islam itu sendiri. Tetapi sepenuhnya tanggung jawab para pengimplementasinya (dalam hal ini pengelola mesjid).
Dalam beberapa kasus ada cerita dari rekan sang Awam (rekan tersebut berbeda agama) dimana dia terkadang malah merasakan ketenangan saat mendengar adzan berkumandang dari kejauhan. Dan memang ada juga yang merasa terganggu dengan Adzan yang dikumandangkan secara tidak enak atau dengan kualitas speaker yang sangat jelek (sember). Hal itu merupakan tanggapan orang atas perangkat pengeras suaranya saja. Tetapi tidak ada satupun yang berkeberatan atas kata2 dan makna yang dikumandangkan pada adzan. Hal itu bisa diartikan bahwa panggilan adzan itu baik dan penerimaan publik juga baik. Bukan kah itu bagian dari toleransi sesama umat beragama?
Lalu siapa yang sangat terganggu dengan segala macam bunyi2an dari rumah peribadatan APAPUN, (biasanya yang merasa terganggu adalah karena berbeda agama dan orang tersebut tidak punya rasa toleransi) maka daripada ia mengeluh sebaiknya ia PINDAH saja. That simple. Yang muslim jangan tinggal dekat2 Gereja/Kuil dsb, Kristen jangan tinggal dekat2 Mesjid/Kuil dsb, Buddha jangan tinggal dekat2 Mesjid/Gereja. Bila anda tidak punya rasa toleransi dan anda dekat dengan rumah peribadatan lain berarti itu justru akan terpupuk rasa kesal yang kian berlapis. Open up your eyes bro, I am sure there are plenty better place for you !! And you what? anda akan rugi sendiri karena kesal hanya utk diri sendiri. Anda tahu mengapa? baik saya jelaskan.
Mari kini coba kita renungkan:
Apakah ada cara beribadah suatu agama yang secara langsung mengganggu Agama lainnya? menurut pengetahuan sang Awam, jawabannya "Tidak ada !!"
Nah lalu, dengan begitu banyak persamaan yang diajarkan oleh semua Agama, dan perbedaannya hanya cara beribadah saja tetapi mengapa begitu banyak yang mudah terpengaruh untuk berseteru hanya karena berbeda cara beribadah kepadaNYA ?? bagi sang Awam ini sungguh tidak masuk akal.
Memang dulu telah terjadi peperangan antar agama. Tetapi hal itu terjadi pada jaman dahulu kala. Berabad2 yang lampau? Perlukah sekedar suatu peperangan seperti itu dilestarikan sebagai peperangan turun menurun? ingat pada kesamaan jawaban atas pertanyaan "...Boleh kah kita mendendam? jawaban semuanya sama: TIDAK!!..."
Apabila dendam yang selalu kita bawa maka berarti kita sudah tidak IKHLAS (baca AWAM mengartikan IKHLAS) dan bila kita tidak ikhlas berarti kita sudah 1/2 salah dalam menjalankan ajaran Agama.
Dengan begitu banyak persamaan dan hanya satu perbedaan bukankah seharusnya kita bisa mencapai kerukunan yang sebenarnya? sang Awam merasa pembaca sepakat pada pernyataan bahwa kerukunan Agama dapat mudah kita capai cukup dengan menghindari diri dari perbuatan melecehkan agama lain. YA, SEMUDAH ITU !!.
Perang antar agama jaman dulu dengan jaman sekarang sungguh sangat berlainan. Kini peperangan tsb sangat berkaitan dengan masalah ekonomi, eksistensi, kedigjayaan, politik dan lain2nya sehingga menghalalkan perang dengan cara apapun akan tetapi karena kebetulan perang tsb adalah antar agama yang berlainan maka perang tsb dilakukan atas nama Agama (sehingga membakar semangat yang telah mendarah daging). Terbayangkah kita bagaimana perasaan Sang Khaliq melihat agama yang diturunkannya ternyata dilecehkan dan disalahgunakan. Apa lagi yang berperang adalah umatNYA. Sama2nya ciptaanNYA.
Memang patut disayangkan suatu keyakinan yang terlalu yakin kadang membuat kita khilaf dan menyalahkan yang lainnya. Masing2 Agama telah mengajarkan bahwa Agama INI adalah Agama yang benar. Kata benar disini bukan seperti soal SD bila INI BENAR maka ITU SALAH. Menurut sang Awam, maksud kata "Agama yang benar" tersebut selayaknya diartikan "Agama INI yang benar utk diimplementasikan dalam bermasyarakat dan menjaga alam". Sebegitu kuatnya Agama dijadikan label bahkan sampai ada pengajar yang mengatakan apabila orang beragama X maka ia akan masuk surga. Sementara pengajar lain mengatakan bahwa apabila orang beragama Y maka ia akan masuk surga. Sang pengajar tersebut entah lupa atau tidak tahu bahwa menganut suatu agama saja bukanlah jaminan / freepass utk masuk surga.
Contoh kasus: Apabila seseorang yang beragama A sedang menyiksa orang beragama B lalu kepergok oleh orang yang beragama C yang mencoba menolong si B sehingga A dan C terlibat perkelahian sampai sama2 tewas dan si B juga tewas karena kehabisan darah (sudah terlalu parah terluka). Lalu siapakah diantara mereka yang akan masuk surga? Dengan cara ajaran diatas maka ketiga2nya diyakini oleh penganut agamanya masing2 akan masuk surga. Padahal sang Awam yakin hal itu tergantung dari kasusnya dan hitungan surga bukan semata dari cara mati seseorang melainkan juga cara hidup seseorang. Dan kita, karena kita manusia, tidak bisa menentukan siapa diantara mereka yang akan masuk surga. Sang Awam bahkan tidak perduli. karena urusan agama dan Surga adalah tanggung jawab masing2 individu terhadap Sang Khaliq dan sama bukan terhadap sesama manusia.
Sampai disini sang Awam ingin menyimpulkan bahwa cara kita beribadah dan berperilaku adalah tanggung jawab kita masing2. Jadi tidak perlu kita memaksakan cara kita kepada orang lain. Bila kita yakini bahwa dengan agama yang kita anut maka kita akan masuk Surga lalu mengapa kita perlu memaksa orang lain untuk ikut masuk Surga? bukankah setiap orang yang berbeda agama berkeyakinan yang sama yaitu agamanya akan menuntunnya ke Surga.
Atau kalau Anda mau berfikiran lebih gokil coba pakai prinsip ini: Biarkan orang lain beribadah dengan caranya (yang kau anggap salah). Toh dengan demikian Surga tidak sesak tetapi jauh lebih lowong karena kelak hanya akan berisi orang sepertimu (yang beribadah dengan cara mu).
Tiada yang peduli apabila Anda menggunakan fikiran seperti ini, toh dengan demikian efeknya secara tidak langsung Anda menjadi toleran (karena TIDAK PEDULI) cara ibadah agama lain. dan yang terutama tidak memaksakan KEHENDAK.
Mengakhiri topik ini izinkan sang Awam berpendapat bahwa sebaiknya kita cukup pada tingkat meyakini bahwa agama yang kita anut adalah benar tanpa menyalahkan agama lainnya. Dengan demikian Insya Allah kehidupan beragama kita dapat lebih rukun dan malah saling mengisi satu sama lainnya.
Salam,
Abah