Abimanyu Panca Kusuma's posts with tag: akal
Terkadang orang menjadikan agama sebagai suatu label atau bahkan semacam freepass utk masuk Surga. Tetapi pernahkah kita mencoba mengulas agama lebih luas lagi? Semoga dengan topik ini kita yang sama2 sedang belajar mendalami agama dapat lebih memahaminya. Pada dasarnya manusia memiliki modal akan ajaran kebaikan dan kebenaran, modal tersebut bernama Nurani (baca AWAM menyentuh NURANI) yang sejatinya cukup untuk menjalani hidup. Selain Nurani, manusia juga memiliki modal lain untuk menjalani hidup yakni dengan Akal (baca AWAM menyentuh AKAL). Lalu apa gunanya agama? sang Awam berpendapat bahwa ajaran agama (yang benar) adalah panduan yang diberikan oleh Sang Khaliq agar manusia dapat terus hidup secara dekat dengan nuraninya tetapi melalui jalur akal (karena diberikan berupa cerita, ketentuan, hubungan sebab-akibat dan hal2 lainnya yang bisa diterima oleh nalar dan logika awam manusia). Bisa dikatakan bahwa agama adalah pengimbang atau jembatan antara Nurani dan Akal. Sang Awam meyakini bahwa ajaran agama adalah suatu panduan. Agama bukanlah suatu hadiah dan bukan berkah, melainkan pilihan untuk menjalani hidup seorang manusia. Ingatkah kita bahwa saat dilahirkan ke dunia seorang bayi tidak menganut agama apapun. Adapun yang mengendalikan si bayi adalah Nuraninya. Sehingga kita melihat sendiri bahwa si kecil (tanpa ada yang mengajari sama sekali) sering kali sudah mampu melakukan hal yang baik (secara Nurani dan Akal). Lalu seiring pertumbuhan si bayi mau tidak mau ia ditanamkan paham2 agamis yang dianut orang tuanya atau yang dominan di lingkungan si kecil itu. Sampai saatnya ia beranjak dewasa maka manusia mulai bisa menentukan sendiri apakah ia masih merasa cocok atas ajaran tersebut ataukah mencari agama lain? Ada beragam kemungkinan alasan orang berpindah agama. Dan menurut sang Awam alasan tersebut bisa dibagi dalam 2 kelompok, yaitu Nurani ataupun Akal. Yang pindah karena terketuk Nuraninya, antara lain karena: - Agama yang baru lebih memberikan ketenangan
- Agama yang baru semakin banyak menunjukan kebenarannya
- Agama yang lama semakin digali semakin terasa kedangkalannya
- dll
Yang pindah berdasarkan Akal, antara lain karena: - Karena disyaratkan kalau mau menikah harus mengikuti ajaran agama yang dianut pasangan.
- Karena melihat banyak kemudahan pada agama yang baru (contoh seperti yang dimingkan suatu ajaran AGAMA BARU, yang terakhir dinyatakan bahwa agama tsb sesat)
- Karena sekedar kepentingan finansial pribadi (ada cerita seseorang pindah agama hanya karena dilingkungan kerjanya yang bisa naik pangkat adalah agama tertentu)
- Karena melihat suatu kesempatan memperoleh keuntungan dari public exposure
- dll
Menurut sang Awam, alasan yang lebih mulia diantara keduanya adalah yang pindah karena ketukan Nurani. Namun sekalipun demikian kita, sebagai sesama manusia, tidak berhak menilai bahwa ia telah berpindah ke agama yang salah atau sebaliknya. Mengapa? karena kita hanya manusia. Seseorang yang menjalankan suatu agama tertentu hanya karena given (sebagai ajaran turunan dari orang tuanya) maka belum tentu dapat ia jalankan dengan benar apabila tidak dijalankan dengan pengimbangan Nurani dan Akal. Semua ajaran agama pada umumnya mengarahkan atau menjelaskan kepada manusia mengenai apa yang baik maupun tidak baik, yang benar maupun yang salah baik lisan, tulisan maupun perbuatan. Dimana setiap agama yang baik dengan caranya masing-masing telah mengajarkan kepada umat manusia bagaimana cara hidup, cara bersosialisasi, berdagang, berperilaku dll sesuai dengan cara yang DIYAKINI sebagai cara yang benar pada agama tersebut. Dan dengan bermodalkan panduan dari agama tersebut banyak pula bukti bahwa bila diamalkan oleh umatnya sesuai dengan amanah agama tersebut maka semua akan baik-baik saja. Sang Awam mencoba merangkumkan pada suatu arti bahwa agama pada akhirnya adalah suatu ajaran untuk kembali kepada Sang Khaliq dengan cara berbuat kebaikan semasa didunia. Tetapi sepertinya banyak yang memandang lain. Seolah Mereka, para umat, hidup sesuai ajaran agamanya hanyalah semata sebagai upaya dia untuk mencapai Surga (baca AWAM mengartikan SURGA). They treat a RELIGION only as kind of a Freepass to Heaven :) Padahal sebenarnya, sesuai keyakinan sang Awam, inti manfaat agama bukanlah sekedar agar mencapai Surga saja tetapi yang terutama justru sebagai modal, sebagai panduan, untuk hidup didunia secara benar, dapat bermasyarakat dengan benar, merawat bumi dengan benar. Adapun surga adalah imbalan dari kebaikan dan ketaatan kita padaNYA, tetapi bukan inti dari tujuan Sang Khaliq memberikan kita panduan tersebut (agama). Dan pada intinya semua ajaran agama banyak kesamaannya. Sebagai contoh coba cari 2 orang rekan anda (sebut saja si A dan B) lalu tanyakan kepada mereka: - Bagaimana cara meraih benda yang sedikit lebih tinggi dari mereka? jawabannya adalah sama yakni dengan berjinjit atau meloncat atau menumpu pada benda yg lebih tinggi.
- Bagaimana agar paru2 tidak kemasukan air saat kita dibawah air? jawabannya adalah sama yakni Tahan Napas (kecuali yang pakai alat SCUBA)
- Bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain? jawabannya adalah: menggunakan bahasa/cara yang kira2 dipahami oleh kedua belah pihak.
- Bagaimana cara mereka makan? mungkin jawabannya akan berlainan tergantung budaya masing2 tetapi A tidak berkeberatan mencoba cara makan B dan begitupun sebaliknya.
- Mengapa kita belajar? jawaban semuanya sama: AGAR MENDAPAT ILMU YANG BERMANFAAT
Itu jawaban yang sama atas pertanyaan2 simpel bukan?, baiklah kita lanjutkan dengan mencoba bertanya kepada masing2 orang yang agamanya berbeda2: -
Baik kah bila kita makan secara berlebihan? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!! -
Baik kah bila kita memaki orang? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!! -
Baik kah bila kita berbohong? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!! -
Baik kah bila kita mencuri? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!! -
Baik kah bila kita memfitnah orang? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!! -
Baik kah bila kita menyusahkan orang? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!! -
Perlukah kita menolong orang yang susah? jawaban semuanya sama: PERLU!! -
Perlukah kita bertutur kata yang baik? jawaban semuanya sama: PERLU!! -
Perlukah kita menjaga kesehatan? jawaban semuanya sama: PERLU!! -
Wajarkah orang yang salah dihukum? jawaban semuanya sama: WAJAR!! -
Bisakah orang yang bertaubat dosanya dimaafkan? jawaban semuanya sama: BISA!! -
Baik kah bila kita menggunakan Narkoba? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!! -
Baik kah bila kita menyalahgunakan wewenang? jawaban semuanya sama: TIDAK BAIK!! -
Apa yang harus kita lakukan bila menyakiti orang? jawaban semuanya sama: MINTA MAAF!! -
Boleh kah semena2 memperlakukan binatang? jawaban semuanya sama: TIDAK!! -
Boleh kah kita mengumbar amarah? jawaban semuanya sama: TIDAK!! -
Apa yang harus dilakukan terhadap alam? jawaban semuanya mirip: DIRAWAT, DIJAGA DAN DILESTARIKAN!! -
Boleh kah kita mendendam? jawaban semuanya sama: TIDAK!! Dan masih banyak contoh pertanyaan serupa lainnya yang sang Awam yakini jawabannya ada persamaan. Berarti pada INTInya ajaran Agama yang benar untuk kita dapat hidup didunia adalah sama. Tetapi karena suatu agama diyakini kebenarannya oleh si A sedangkan si B meyakini agama lain, kini coba tanyakan kepada mereka kembali: - Mana agama yang benar?
- Siapa Tuhan yang benar?
- Bagaimana cara beribadah yang benar ?
- dll.
Maka setiap penganut agama yang berbeda tentu beda pula jawabannya. Dan atas keyakinan si A maka ia bisa dipastikan tidak mengakui jawaban si B begitupun sebaliknya. Kini coba cara lain: Coba pembaca pergi ke tempat umum / publik untuk melihat ragam orang (saat sedang tidak beribadah). Misal di Cafe, di Mall, di rumah sakit dll. Anda pasti sulit untuk dapat memastikan agama yang dianut masing2 orang tersebut bukan? Satu hal yang dapat membedakan Agama seseorang bukanlah dari raut wajah, cara berjalan, bicara, makan, duduk, berlari, tertawa, menangis, marah dll melainkan hanya dari cara mrk berdandan yang berkaitan dg ibadah mereka masing. Dari sample yang simple ini kita bisa mencoba menarik garis lurus bahwa yang membedakan antara agama yang satu dengan yang lainnya ternyata hanya satu hal yang saat hal tsb dilakukan tidak ada hubungan atau tidak mengganggu kegiatan orang lain yaitu saat kita berbicara, berdoa, memohon pada Yang Satu, Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta yaitu Sang Khaliq. Dalam berhubungan denganNYA itulah masing2 agama mensyaratkan aturannya sendiri2. Tentu dibalik setiap aturan tersebut pasti adalah maksud dan tujuan. Banyak yang berkeyakinan bahwa Agama apapun penciptanya hanya satu, Sang Khaliq. Sang Awampun berkeyakinan yang sama. Hal lain yang membedakan satu umat Agama dengan yang lainnya adalah tata cara dan pantangannya dalam berperilaku atau berinteraksi dengan manusia dan alam. Kembali hal itu memang ada alasan bagi masing2 Agama yang pada umumnya adalah menjaga kesehatan manusia atau menjaga diri dari hal yang cenderung tidak baik atau bersifat maksiat. Seperti yang sang Awam sudah utarakan diatas bahwa secara hakiki cara beribadah masing2 umat TIDAK pernah mengganggu manusia lainnya. Karena umumnya dilakukan pada tempat yang sepi / menyendiri atau di tempat2 ibadah. Memang betul setiap rumah2 ibadah membuat bunyi2an. Adzan & Bedug pada Islam, Lonceng pada Kristen, Buddha dll. Tetapi perlu kita ingat bahwa bunyi2an tersebut hanyalah sebagai MEDIA untuk memanggil umat sebagai pertanda bahwa telah tiba waktu peribadatan. Memang ada banyak mesjid yang saat beribadah sang Imam dipakaikan speaker sehingga suaranya keras menyebar. Kaidahnya suara speaker tersebut sebenarnya hanya perlu diatur sebatas peserta ibadah pada saat itu saja dg tujuan agar gerakan peribadatan dilakukan secara serentak. Memang ada bbrp kalangan (umumnya bule) yang protes mengapa mesjid volumenya sangat keras. Sebenarnya hal itu bukanlah anjuran dari ajaran Islam itu sendiri. Tetapi sepenuhnya tanggung jawab para pengimplementasinya (dalam hal ini pengelola mesjid). Dalam beberapa kasus ada cerita dari rekan sang Awam (rekan tersebut berbeda agama) dimana dia terkadang malah merasakan ketenangan saat mendengar adzan berkumandang dari kejauhan. Dan memang ada juga yang merasa terganggu dengan Adzan yang dikumandangkan secara tidak enak atau dengan kualitas speaker yang sangat jelek (sember). Hal itu merupakan tanggapan orang atas perangkat pengeras suaranya saja. Tetapi tidak ada satupun yang berkeberatan atas kata2 dan makna yang dikumandangkan pada adzan. Hal itu bisa diartikan bahwa panggilan adzan itu baik dan penerimaan publik juga baik. Bukan kah itu bagian dari toleransi sesama umat beragama? Lalu siapa yang sangat terganggu dengan segala macam bunyi2an dari rumah peribadatan APAPUN, (biasanya yang merasa terganggu adalah karena berbeda agama dan orang tersebut tidak punya rasa toleransi) maka daripada ia mengeluh sebaiknya ia PINDAH saja. That simple. Yang muslim jangan tinggal dekat2 Gereja/Kuil dsb, Kristen jangan tinggal dekat2 Mesjid/Kuil dsb, Buddha jangan tinggal dekat2 Mesjid/Gereja. Bila anda tidak punya rasa toleransi dan anda dekat dengan rumah peribadatan lain berarti itu justru akan terpupuk rasa kesal yang kian berlapis. Open up your eyes bro, I am sure there are plenty better place for you !! And you what? anda akan rugi sendiri karena kesal hanya utk diri sendiri. Anda tahu mengapa? baik saya jelaskan. Mari kini coba kita renungkan: Apakah ada cara beribadah suatu agama yang secara langsung mengganggu Agama lainnya? menurut pengetahuan sang Awam, jawabannya "Tidak ada !!" Nah lalu, dengan begitu banyak persamaan yang diajarkan oleh semua Agama, dan perbedaannya hanya cara beribadah saja tetapi mengapa begitu banyak yang mudah terpengaruh untuk berseteru hanya karena berbeda cara beribadah kepadaNYA ?? bagi sang Awam ini sungguh tidak masuk akal. Memang dulu telah terjadi peperangan antar agama. Tetapi hal itu terjadi pada jaman dahulu kala. Berabad2 yang lampau? Perlukah sekedar suatu peperangan seperti itu dilestarikan sebagai peperangan turun menurun? ingat pada kesamaan jawaban atas pertanyaan "...Boleh kah kita mendendam? jawaban semuanya sama: TIDAK!!..." Apabila dendam yang selalu kita bawa maka berarti kita sudah tidak IKHLAS (baca AWAM mengartikan IKHLAS) dan bila kita tidak ikhlas berarti kita sudah 1/2 salah dalam menjalankan ajaran Agama. Dengan begitu banyak persamaan dan hanya satu perbedaan bukankah seharusnya kita bisa mencapai kerukunan yang sebenarnya? sang Awam merasa pembaca sepakat pada pernyataan bahwa kerukunan Agama dapat mudah kita capai cukup dengan menghindari diri dari perbuatan melecehkan agama lain. YA, SEMUDAH ITU !!. Perang antar agama jaman dulu dengan jaman sekarang sungguh sangat berlainan. Kini peperangan tsb sangat berkaitan dengan masalah ekonomi, eksistensi, kedigjayaan, politik dan lain2nya sehingga menghalalkan perang dengan cara apapun akan tetapi karena kebetulan perang tsb adalah antar agama yang berlainan maka perang tsb dilakukan atas nama Agama (sehingga membakar semangat yang telah mendarah daging). Terbayangkah kita bagaimana perasaan Sang Khaliq melihat agama yang diturunkannya ternyata dilecehkan dan disalahgunakan. Apa lagi yang berperang adalah umatNYA. Sama2nya ciptaanNYA. Memang patut disayangkan suatu keyakinan yang terlalu yakin kadang membuat kita khilaf dan menyalahkan yang lainnya. Masing2 Agama telah mengajarkan bahwa Agama INI adalah Agama yang benar. Kata benar disini bukan seperti soal SD bila INI BENAR maka ITU SALAH. Menurut sang Awam, maksud kata "Agama yang benar" tersebut selayaknya diartikan "Agama INI yang benar utk diimplementasikan dalam bermasyarakat dan menjaga alam". Sebegitu kuatnya Agama dijadikan label bahkan sampai ada pengajar yang mengatakan apabila orang beragama X maka ia akan masuk surga. Sementara pengajar lain mengatakan bahwa apabila orang beragama Y maka ia akan masuk surga. Sang pengajar tersebut entah lupa atau tidak tahu bahwa menganut suatu agama saja bukanlah jaminan / freepass utk masuk surga. Contoh kasus: Apabila seseorang yang beragama A sedang menyiksa orang beragama B lalu kepergok oleh orang yang beragama C yang mencoba menolong si B sehingga A dan C terlibat perkelahian sampai sama2 tewas dan si B juga tewas karena kehabisan darah (sudah terlalu parah terluka). Lalu siapakah diantara mereka yang akan masuk surga? Dengan cara ajaran diatas maka ketiga2nya diyakini oleh penganut agamanya masing2 akan masuk surga. Padahal sang Awam yakin hal itu tergantung dari kasusnya dan hitungan surga bukan semata dari cara mati seseorang melainkan juga cara hidup seseorang. Dan kita, karena kita manusia, tidak bisa menentukan siapa diantara mereka yang akan masuk surga. Sang Awam bahkan tidak perduli. karena urusan agama dan Surga adalah tanggung jawab masing2 individu terhadap Sang Khaliq dan sama bukan terhadap sesama manusia. Sampai disini sang Awam ingin menyimpulkan bahwa cara kita beribadah dan berperilaku adalah tanggung jawab kita masing2. Jadi tidak perlu kita memaksakan cara kita kepada orang lain. Bila kita yakini bahwa dengan agama yang kita anut maka kita akan masuk Surga lalu mengapa kita perlu memaksa orang lain untuk ikut masuk Surga? bukankah setiap orang yang berbeda agama berkeyakinan yang sama yaitu agamanya akan menuntunnya ke Surga. Atau kalau Anda mau berfikiran lebih gokil coba pakai prinsip ini: Biarkan orang lain beribadah dengan caranya (yang kau anggap salah). Toh dengan demikian Surga tidak sesak tetapi jauh lebih lowong karena kelak hanya akan berisi orang sepertimu (yang beribadah dengan cara mu). Tiada yang peduli apabila Anda menggunakan fikiran seperti ini, toh dengan demikian efeknya secara tidak langsung Anda menjadi toleran (karena TIDAK PEDULI) cara ibadah agama lain. dan yang terutama tidak memaksakan KEHENDAK. Mengakhiri topik ini izinkan sang Awam berpendapat bahwa sebaiknya kita cukup pada tingkat meyakini bahwa agama yang kita anut adalah benar tanpa menyalahkan agama lainnya. Dengan demikian Insya Allah kehidupan beragama kita dapat lebih rukun dan malah saling mengisi satu sama lainnya. Salam, Abah
Sebelum anda membaca ini, agar anda paham atas apa yang sang Awam sampaikan mungkin sebaiknya anda membaca AWAM menyentuh NURANI, AWAM menyentuh AKAL dan AWAM terhadap TUBUH
Saat Akal memerintahkan tubuh untuk melakukan hal yang tidak dapat diterima atau tidak sejalan dengan Nurani dan bahkan bertentangan dengan Nurani maka Tubuhpun akan mengalami konflik yang bila dibiarkan berlarut akan menjadi penyakit. Ciri-ciri tubuh yang mengalami konflik bisa dengan debaran jantung, tangan / tubuh bergetar, keluar keringat dingin, rasa tegang pada mata, mulut, anggota tubuh lainnya, Serasa sesak dll. Perilaku konflik tersebut sang Awam menganalogikannya persis dengan perumpamaan organisasi yang pengurusnya melakukan hal yang bertentangan dengan AD/ART akan mengakibatkan konflik pada anggota organisasi, Bila pada Komputer konflik tsb mengakibatkan komputer bekerja tidak sesuai mestinya bahkan Hang. Sang Awam dapat membuktikan banyak kejadian dan fakta bahwa suatu Konflik pasti akan berbekas dan tidak mudah sirna, demikian pula konflik pada Tubuh kita. Bila Tubuh sering mengalami konflik karena pertentangan pengaruh Akal dan Nurani (atau mudahnya disebut Konflik Batin) maka Tubuh setiap hari akan tegang, Raut wajah tidak ramah, mudah darah tinggi, sering pening, bangun tidur tidak pernah segar, susah tidur, tidur tiada pernah nyenyak dll. Pada intinya Tubuh akan mengalami ketidaknyamanan yang bila tidak ditangani efeknya akan berakibat tambah buruknya keadaan Tubuh tsb sehingga kita sering mengalami Tidak Enak Badan atau bahkan Jatuh Sakit. Dan jenis penyakit tersebut bukanlah penyakit yang disebabkan trauma fisik, luka, virus, epidemi dan penyebab penyakit fisik lainnya.
Konflik karena terjadi kontra antar Akal (yang tidak baik) dengan Nurani sangat sering terjadi dalam hidup kita sehari2 dan saling berpadu, bahkan kita akan sering permisif atas apa yang tidak baik itu, contoh yang ringan yang sering terjadi adalah yang berakibat terhadap fisik tubuh (baca AWAM terhadap TUBUH). Konflik tsb mengorbankan Tubuh: - Berani berbohong (atas alasan apapun, bahkan demi kebaikan sekalipun) tubuh akan bergetar halus, jantung berdebar, adrenalin terpicu. Itu hanya karena takut kebohongannya terungkap. - Target pekerjaan, Dead line, dll memaksa diri menyelesaikan pekerjaan yang padat demi karir / tugas agar tetap berprestasi dan agar tidak diremehkan rekan kerja atau bahkan dipecat atasan - Secara sengaja melakukan hal yang tidak baik (misalkan mencuri, membunuh dll) dimana saat melakukan hal tsb anggota tubuh yang berhubungan langsung dengan aktifitas tersebut akan bereaksi: kaki langsung menjadi lemas yang sebenarnya sebagai upaya kaki untuk menggagalkan niatan Akal jahat tsb, tangan bergetar (penuh keraguan), kepala merunduk sebagai upaya untuk tidak ingin menyaksikan hal tsb dan dengan rasa malu sehingga tidak berani melihat siapapun. Dan guna melawan semua rasa itu dengan pengaruh Akal yang sudah jahat biasanya otomatis mencoba menarik napas lebih intensif dan secara otomatis jantung akan berpacu lebih kuat untuk memberikan kekuatan pada kaki sebagai penyangga, dan Akal berupaya agar tangan tidak bergetar dst. Selesai melakukan segala aktifitas kontra Nurani manusia pasti akan lelah bahkan sangat amat letih sehingga otak tidak mampu berpikir dengan demikian akal tidak bekerja, saat itu Nurani kembali memegang peranan mengendalikan tubuh dan otak. Karena itu lalu manusia akan merasa menyesal atas apa yang ia perbuat. Seperti pepatah SESAL KEMUDIAN TIADA BERGUNA, begitupun yang terjadi pada tubuh, semua konflik tersebut terekam dan terpendam pada tubuh dimana bila dibiarkan berlarut dan berkelanjutan akan menimbulkan berbagai penyakit.
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai Nurani, Sang Awam ingin menggaris bawahi bahwa pada kenyataan hidup kadang manusia menganggap wajar sedikit mentolerir perilaku Akal melawan Nurani. Contoh: melakukan hal yang kontra Nurani karena rasa takut pada atasan, melakukan sedikit kecurangan demi suatu keuntungan atau secara permisif menganggap bahwa semua orang juga melakukan hal yang sama. Apapun alasannya perlawanan terhadap Nurani tetap akan mengorbankan tubuh.
Sewajarnya saat mengalami suatu penyakit, kita pasti akan mencari obat untuk menyembuhkannya. Pada umumnya kita akan mencari obat untuk menyembuhkan anggota tubuh yang sakit tersebut tetapi kita luput untuk melakukan hal yang lebih penting, yakni mencari dan memperbaiki "sumber penyebab penyakit tsb". Sehingga seberapa mahalpun harga suatu obat daya sembuh obat tsb tetap bersifat sementara, sehingga kelak bisa kembali sakit dengan lebih parah atau berganti menjadi anggota tubuh lain yang merasa sakit.
Lalu, adakah obat dari konflik Tubuh tersebut?
Jawabnya ADA, dan obat tersebut sangat mudah anda dapatkan, obat tersebut dapat anda perlu tanpa perlu ke toko Obat/Apotik, tanpa perlu resep dokter. Selalu tersedia dimanapun anda berada, dan yang lebih mengejutkan, Obat tersebut bisa anda peroleh secara Gratis !!. Dimana bisa mendapatkan obat tersebut? jangan mengira Sang Awam menjual obat tersebut, karena Sang Awam bukanlah penjual obat.. ;))
Berikut adalah hal yang perlu diketahui tentang obat tersebut: Apa nama obat tersebut? Nurani. Dimana bisa memperoleh Nurani? ada pada diri anda masing2. Bagaimana takaran mengkonsumsi obat tsb? Kadar/Komposisi Nurani setiap orang adalah Sama, jadi anda tidak perlu resep dokter. Bagaimana cara menggunakan obat tsb? sangat mudah dengan senantiasa mengikuti Nurani. Kapan menggunakan obat ini? pada setiap perilaku.
Apakah ada produk Nurani palsu? ADA Apakah AKAL sebagai pemalsu Nurani? Bukan Akal, melainkan manusia itu sendiri yang tidak mampu menyentuh Nurani sehingga tetap menggunakan AKAL sebagai pengganti Nurani (itu yang lazim disebut membohongi diri sendiri). Bagaimana cara mengetahui indikasi Nurani palsu? menganggap hal yang tidak baik adalah suatu baik Apakah efek mengkonsumsi Nurani palsu? Tubuh tetap mengalami konflik, stress, dan yang rugi ya manusia itu sendiri
Apa kontra-indikasi dari Nurani? jelas sekali, yaitu kegiatan/aktifitas yang bertentangan dengan Nurani. Apa manfaat Nurani terhadap Tubuh? wajah lebih bersinar, ceria, tubuh serasa ringan, stress berkurang, penyakit berangsur berkurang bahkan bisa hilang. Apalagi manfaat yang lebih hebat? Anda menjadi sensitif terhadap sinyal tubuh (sering disebut instinc) dan bila telah mengikuti instinc dengan benar PASTI akan terhindar dari hal yang buruk bagi diri anda, timbul rasa percaya diri, optimisme, obyektif dll. Berapa besar jaminan kesembuhan dengan obat ini? Tergantung seberapa kuat / sering anda dapat senantiasa mengikuti Nurani Bila lupa mengkonsumsi Nurani apa yang harus anda lakukan? Mudah saja, ya kembali melanjutkan mendengarkan Nurani Siapa pembuat obat Nurani ini? Sang Pencipta, Sang Khaliq Kapan Nurani akan kalah dengan AKAL? Saat Anda menggunakan Akal menutupi semua kepalsuan, kemunafikan dan terus menutupi kesalahan diri. Apa indikasi awal Nurani dapat mengatasi AKAL anda? Pengakuan nyata terhadap diri atau Dapat jelas melihat kesalahan dan ketidak baikan yang telah ia lakukan. Ingat pengakuan yang paling sejati adalah pengakuan kepada diri sendiri, bukan kepada orang lain. Apakah indikasi lanjutan bahwa Nurani telah berpengaruh? Melakukan perbaikan diri secara nyata dengan mulai BERANI bertindak dengan Nurani. (baca AWAM mengartikan KEBERANIAN) Mengapa AKAL yang harus mengikut Nurani, bukan sebaliknya? Karena Nurani bersifat murni, sedang Akal telah banyak terkontaminasi ragam hal yang baik dan buruk, dan AKAL yang telah buruk bisa berubah menjadi baik dan seiringi dengan Nurani. Sedangkan Nurani sampai kapanpun tidak mungkin berubah menjadi Buruk. Apa akibatnya bila anda overdosis Nurani? anda menjadi manusia yang Mulia Bolehkah AKAL kita memilih tetap menentang Nurani? hal itu tidak ada yang melarang, toh efek dan manfaatnya adalah terhadap Tubuh masing2. Apa efek lanjutan menentang Nurani? mudah kehilangan pegangan sehingga mudah frustasi, pesimistis, menkonsumsi sesuatu yg tujuannya sekedar stimulan sebagai pelarian utk mengalihkan atau melupakan problema sementara (rokok, makanan yang tidak perlu, minuman keras bahkan narkoba), tidak lagi mampu memilah mana yang baik maupun buruk, dan yang terparah akan menyalahkan/menyangkal kebenaran atau hal yang jelas2 benar hanya demi menutupi kesalahan diri dan semua itu tetap dianggapnya benar.
Setelah melihat begitu besar kekuatan, kebaikan Nurani serta daya sembuhnya yang DAHSYAT, Sewajarnyalah manusia yang Mulia dengan Akal yang sehat akan termotivasi untuk mulai melakukan hamoninasi antara Akal dan Nurani. Bila anda selama ini telah hidup berdasarkan Nurani maka kita akan mengakui hal diatas, namun bila Akal anda telah secara dominan mengalahkan Nurani maka anda akan mencemoohkan hal diatas.
Sudahkah kita bertindak berdasarkan Nurani? pssstt... sudahlah.. kita tak usah repot2 menjawab, biarkan Nurani yang menilai kebenaran jawaban kita sendiri.
Salam,
Sang Awam
Pada dasarnya manusia terlahir dengan 3 komponen utama: Tubuh, Akal dan Nurani.
Sebelum membaca ulasan ini Sang Awam menganjurkan anda untuk membaca AWAM menyentuh NURANI serta AWAM menggunakan AKAL.
Tubuh manusia sebenarnya dapat kita kategorikan menjadi 2 kelompok yakni Indra-indra yang berfungsi sebagai interfacing media (yakni anggota tubuh yang mewakili indra untuk melihat, mendengar, merasa, mencium, meraba) dan supporting media (yakni indra yang melakukan pengolahan segala masukan dari interfacing media lalu melakukan hal bagi manusia agar dapat mengatasi apa yang dihadapi, seperti jaringan syaraf, otak, jantung, saluran darah, paru2 dll).
Sang Khaliq sebagai Sang Pencipta telah sedemikian bijaksana membuat setiap mahluk hidup untuk dapat survive berdasarkan indra yang dimiliki.
Ada beberapa ajaran yang lebih mengutamakan suatu indra dibandingkan yang lainnya. Padahal pada dasarnya manfaat semua indra tersebut sama penting sesuai porsi dan tugasnya masing2 dan tidak ada satu indra yang lebih penting daripada lainnya. Betulkah begitu? Jawabnya pasti YA ! manusia yang hanya mengandalkan suatu indra saja biasanya akan lebih mudah terpedaya. Bahkan ketidak berfungsian suatu indra dapat digantikan oleh gabungan dari beberapa indra lainnya.
Misal: Saat kita tidak dapat memanfaatkan mata karena kendala fisik atau suatu keadaan (misal saat gelap) maka indra pendengaran kita sebenarnya bisa menangkap dimensi ruang tempat kita berada, indra peraba mencari bentuk atas setiap benda, indra pencium bisa mengetahui apa saja benda disekitar kita. Saat kita tidak bisa mendengar maka dengan melihat suatu benda dan menganalisa sekitarnya kita bisa membayangkan suara yang terjadi.
Kemampuan fungsi indra setiap manusia berbeda-beda, mengapa demikian? Karena Sang Pencipta mempunyai tujuan tertentu bagi manusia tersebut dimana semua itu dengan porsi yang sangat Adil. Ada yang tidak bisa melihat tetapi kemampuan mendengar dan menciumnya diatas rata2 sehingga dengan bermodalkan indra tersebut ia tetap bisa melihat. Pada kenyataannya hidup setiap pekerjaan membutuhkan suatu spesialisasi pada indra tertentu sehingga posisi tersebut dapat diisi oleh mereka yang memiliki kelebihan pada indra-indra tertentu.
Bagi mereka yang telah mendapatkan kelengkapan indra sedari lahir terkadang menganggapnya semua itu sebagai suatu yang SUDAH SEHARUSnya dan melupakan bahwa hal itu adalah SUATU ANUGRAH yang tiada taranya.
Sebagaimana sebagai penerima suatu anugrah sewajarnyalah kita menjunjung anugrah tersebut agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dan bukan disia-siakan atau bahkan dirusak hanya untuk kegiatan yang tidak berguna.
Pada bahasan AWAM menyentuh NURANI dan juga AWAM menggunakan AKAL telah dijelaskan oleh Sang Awam bagaimana Nurani dan Akal mengendalikan tubuh.
Dalam kaitannya dengan kendali Nurani mengendalikan seluruh tubuh baik Interfacing Media maupun Supporting Media sedangkan Akal hanya bisa mengendalikan Interfacing Media.
Pada umumnya manusia lebih mengandalkan Akal dalam mengendalikan Indra-indranya dan itu umumnya karena hanya untuk maksud tertentu. Manusia seperti itu ternyata tidak sanggup atau kurang sensitif untuk mengolah kemampuan indra-indranya yang sebenarnya jauh lebih dari itu sehingga mengabaikan sinyal-sinyal yang sesungguhnya ditangkap oleh indra.
Contoh melihat makanan yang bentuknya menarik dan tahu nilai makanan tersebut lalu ia akan demikian saja menikmati makanan tersebut dan hanya ingin merasakan sensasi-sensasi rasa (baca AWAM mengecap NIKMAT) untuk membentuk rasa yang dianggap menjadi Nikmat yang ditimbulkan oleh makanan tersebut. Padahal bila ia memanfaatkan benar indra penciuman serta perasa dari makanan yang terlihat nikmat tersebut dapat terbentuk naluri untuk menyaring hanya memakan yang laik dimakan saja.
Namun demi nama ETIKA SOSIAL maka penciuman dan penyisihan itu tidak dilakukan manusia karena manusia sudah diajarkan bahwa tidak etis mencium2 makanan sebelum disantap serta tidak etis juga menyisakan bagian dari makanan karena banyak ajaran tradisi yang mengharuskan kita menghabisi tuntas semua yang ada dipiring.
Disini saja sudah terlihat bagaimana kemampuan daya cium yang begitu menakjubkan terabaikan untuk kemudian menggeneralisir bahwa segala yang ada dipiring harus disantap. Hal yang dibiarkan berlarut membuat kira kurang menghargai fungsi hidung sebagai indra pencium.
Note: terkadang orang lupa fungsi hidung. Yang paling sering diingat hidung adalah sebagai alat untuk bernafas, padahal mulut bisa membantu kita bernapas dengan volume dan fungsi yang sama namun saat kita menarik napas maka hawa yang melewati mulut tidak akan terasa perbedaannya sedangkan bila dilakukan via hidung segera tercium segala perbedaan bau yang lewat dan hidung dapat serta merta membedakan bau tsb.
adalah bagi manusia yang sangat dekat dengan anjing peliharaannya (untuk ras anjing tertentu). Bila pikiran majikan sedang kacau / gundah tanpa mengatakan apapun maka anjing akan ikut sedih, dan saat majikan sedang riang maka anjingnya pun ikut riang.
Contoh ringan: Reaksi tubuh atas kesedihan / keprihatinan Bayi, berdasarkan Nuraninya akan berupaya menghindar saat melihat / merasakan yang "Tidak berkenan" namun karena Tubuh belum kuat melakukan hal tsb maka Bayi akhirnya hanya bisa menangis. Selain itu tubuh sang bayi itupun pasti tegang. Contoh mudah lainnya misal saat lapar karena tidak bisa makan maka sang Bayi juga akan menangis, tangis karena prihatin bahwa tubuhnya tidak mendapatkan makanan, Tapi setelah isi perut sudah cukup lalu bila ia tetap mendapat asupan makanan (yg berlebihan) ia pasti akan berupaya menolak dengan gerakan kepala tetapi karena ke tidakberdayaan (dan tidak bisa mengungkapkan bahwa ia telah kenyang) bayi tsb terpaksa harus makan lagi dan lagi sehingga perutnya menjadi terisi makanan yang berlebihan saat itu dan keprihatinan atas apa yang dialami juga menjadikan sang Bayi menangis, karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Ingat bahwa Nurani tidak memiliki nafsu sehingga untuk urusan makan Tubuh hanya butuh makan sbg bahan energi (dengan memberikan rasa lapar ke otak) dan ingin berhenti makan karena bahan olahan telah cukup diterima (tidak perduli makanan dipiring masih banyak). Setelah dewasa maka saat mengalami / melihat suatu yang memprihatinkan / tragis namun kita tidak mampu berbuat apapun maka kita akan menangis sebagai curahan emosi, curahan dari Nurani. Tanda lain yang menandakan keprihatinan / kesedihan selain tangis adalah tubuh (biasanya terjadi tangan) akan bergetar (dari yang kasat mata sampai getaran yang tidak terasa) sampai tubuh/otot kita lelah atas getaran tsb sehingga kita seakan merasa lemas saat / setelah hal yang memprihatinkan tsb. Tangisan sangat bermanfaat untuk mengatasi kesedihan baik sebagai pelepasan emosi maupun produksi hormon yang dapat mengatasi kepiluan. Tetapi kadang sang Akal, agar dibilang tegar, atau diliputi malu / takut dibilang cengeng atau alasan lainnya mencoba menahan diri untuk tidak nangis. Pengaruh Akal tsb sudah mengakibatkan konflik pada tubuh karena melakukan penyangkalan.
Contoh sedang: Gerak refleks tubuh adalah atas pengaruh Nurani. Gerak refleks, senantiasa dikatakan gerakan bawah sadar, karena tanpa analisa Akal tubuh akan langsung bergerak. Adapun gerakan refleks berbeda dengan gerakan hemistasi. Reflek adalah gerakan cepat, responsif sebagai suatu reaksi. Sedangkan hemistasi adalah gerakan natural otot yang otomatis melakukan pengenduran / saat setelah terjadi stressing pada otot tsb.
Ingat satu hal bahwa gerakan satu anggota tubuh bukanlah atas tarikan satu dua otot melainkan gerakan banyak bahkan ribuan otot secara kompak.
Dalam hal refleks apakah mungkin Tubuh bisa bergerak sendiri tanpa perintah? Well, Sang Awam memilih menjawab TIDAK (entah anda sepaham atau tidak). Adapun jawaban yang diperlukan tidak sekedar YA / TIDAK tetapi dengan lebih memperdalam, siapa / apa yang menggerakan Tubuh tsb.
Bila benar teori tubuh bisa bergerak sendiri tanpa perintah apapun, berarti yang memerintah adalah: a) Tubuh itu sendiri. Bila Tubuh dapat sensitif atas gerakan2 tsb maka bukan tidak mungkin tubuh kelak bisa bergerak sendiri tanpa kendali (bukankah suatu yang tanpa kendali adalah hal yang mengerikan?) dan hal itu tidak pernah terjadi bukan? Bila anggota tubuh telah terlepas dari otak maka kontan tubuh tsb tidak bisa bergerak lagi. Maka teori ini gugur. ; b) Tubuh itu dikendalikan mahluk lain yang kasat mata dapat mengalahkan Akal dan Nurani. Adakah mahluk di jagat ini yang lebih berkuasa atas manusia selain manusia itu sendiri? Tidak ada, kecuali Sang Pencipta. Well, mungkin ada yg bilang setan bisa menggerakan manusia, menurut saya orang tsb terlalu sering menonton Sinetron yang banyak membodohi manusia. Perlu diketahui dalam dunia nyata orang yang "kesurupan setan beneran" maka orang tsb bicaranya tidak jelas dan gerakannya ngawur (tidak teratur). Teori bahwa setan bisa menggerakan tubuh juga gugur. Mungkinkah Sang Pencipta ikut campur atas gerakan refleks, suatu hal yang sangat remeh-temeh tsb yang seharusnya menjadi natural manusia? tentu tidak karena Sang Khaliq telah menanamkan acuan bagaimana kerja Tubuh sejak tubuh tersebut tercipta.
Bila benar teori tubuh bisa bergerak sendiri tanpa perintah apapun (sesuai keyakinan sang Awam): Berarti gerakan refleks tubuh pun sudah tertanam, Akal sudah jelas tidak mengendalikan refleks karena akal butuh pikir2 dahulu dan butuh data sedangkan refleks bergerak secara instan sebagai reaksi cepat tanpa dipikir sama sekali berarti gerakan refleks adalah atas suatu dasar yang lebih tinggi dari akal yakni Nurani.
Berarti dengan logika bahwa sebelum bekerja dengan Akal tubuh bergerak atas Nurani terlebih dahulu berarti Nurani tubuh pulalah yang mengendalikan gerakan refleks. Kenapa Sang Awam menyakini hal tsb? Karakter utama Nurani adalah menghindari hal yang buruk (rasa sakit, bohong, jahat dll). Coba anda ulas sendiri dan fikir sendiri adakah gerakan refleks yang justru melakukan hal buruk? sampai saat ini Sang Awam meyakini Tidak Ada gerakan refleks yang buruk:
a) Saat terkena gerakan energi yang tidak mengenakan tubuh pasti tubuh segera bereaksi (tangan menangkis, badan mengelak, kepala memaling, mata memicing dll); b) saat melihat kejadian tragis/bahaya/mengejutkan mata akan mebelalak untuk menangkap/merekam sepenuhnya kejadian tsb; c) Ingat sewaktu kecil saat kita berbohong maka otomatis tangan menutup mulut, mata ingin menutup (karena malu), mulut bergetar, tubuhnya menegang; d) saat manusia memasuki daerah yang spooky bulu kuduk secara refleks berdiri, saat tubuh sensitif terhadap sekitar maka bulu kita akan berdiri (tapi kemudian justru sering kita usap2) dll.
Dalam beberapa perilaku manusia Akal banyak mencoba melakukan tindakan kontrak-refleks dengan contoh kecil sbb: a) Pada Mata saat akan difoto agar muka jadi indah maka tanpa sengaja menahan otot mata mencoba untuk tetap melek tapi ternyata reflek tetap akan berkedip saat menerima kilatan lampu; b) permainan adu pandangan jelas-jelas mencoba mata selama mungkin agar tidak berkedip, setelah selesai adu mata maka mata kita akan berkedip berkali2 untuk melakukan netralisasi; c) Mata adalah salah satu sumber informasi manusia dimana saat otak telah lelah, otak tidak bisa menerima informasi lagi mata otomatis terpejam / meredup tetapi karena Akal menyadarkan bahwa banyak kerjaan maka sekalipun otak tidak mampu tapi Akal memaksa otak utk bekerja dan memaksa mata untuk lebih membelalak; d) Saat bertinju Akal memaksa tubuh untuk standby dan sebelum dipukul melakukan tindakan pukulan; e) Agar tidak ketahuan berbohong mencoba sedapat mungkin mengutarakan kebohongan tsb dengan perilaku yang wajar. Tanpa disadari aktifitas kontra-refleks memperburuk sensitifitas kita akan sinyal tubuh (yang mana sinyal tubuh tersebut justru sangat diandalkan Nurani).
Perbaikan tubuh.... baca AWAM menyentuh NURANI
Berdasarkan semua diatas jelaslah bahwa Tubuh bekerja secara Nurani dan kemudian Akal dapat melakukan perintah pula, Disaat Akal sejalan dengan Nurani dalam melakukan sesuatu maka tubuh akan sangat luwes melakukannya, karena itu Manusia yang Sempurna adalah yang kerja sama Nurani dan Akalnya sangat harmonis atau sejalan. Namun saat Akal memerintahkan tubuh untuk melakukan hal yang tidak dapat diterima atau tidak sejalan dengan Nurani dan bahkan bertentangan dengan Nurani maka Tubuhpun akan mengalami konflik, akan stress. Ciri-ciri tubuh yang mengalami konflik bisa dengan debaran jantung, tangan / tubuh bergetar, keluar keringat dingin, rasa tegang pada mata, mulut, anggota tubuh lainnya, Serasa sesak dll. Perilaku konflik tersebut sang Awam menganalogikannya persis dengan perumpamaan organisasi yang pengurusnya melakukan hal yang bertentangan dengan AD/ART akan mengakibatkan konflik pada anggota organisasi, Bila pada Komputer konflik tsb mengakibatkan komputer bekerja tidak sesuai mestinya bahkan Hang. Sang Awam dapat membuktikan banyak kejadian dan fakta bahwa suatu Konflik pasti akan berbekas dan tidak mudah sirna, demikian pula konflik pada Tubuh kita. Bila Tubuh sering mengalami konflik karena pertentangan pengaruh Akal dan Nurani (atau mudahnya disebut Konflik Batin) maka Tubuh setiap hari akan tegang, Raut wajah tidak ramah, mudah darah tinggi, sering pening, bangun tidur tidak pernah segar, susah tidur, tidur tiada pernah nyenyak dll. Pada intinya Tubuh akan mengalami ketidaknyamanan yang bila tidak ditangani efeknya akan berakibat tambah buruknya keadaan Tubuh tsb sehingga kita sering mengalami Tidak Enak Badan atau bahkan Jatuh Sakit. Dan jenis penyakit tersebut bukanlah penyakit yang disebabkan trauma fisik, luka, virus, epidemi dan penyebab penyakit fisik lainnya.
Contoh Penyakit Tubuh yang bukan karena Trauma fisik ataupun Virus berarti terjadi karena konflik atas Akal dan Nurani (Baca AWAM melihat KONFLIK TUBUH).
Pada Makanan: - Makan karena dijatah (3x sehari) saat siang kita makan sepiring penuh (karena tahu bahwa tidak akan makan sampai malam) menjadikan perut sebagai karung bekal semata padahal makan hanya diperlukan karena tubuh membutuhkan. Bagi yang diet saat waktu makan makan hanya sedikit, menahan perih dan lapar demi tubuh ramping. Solusi sebenarnya kita bisa makan 5x sehari dengan porsi yang kecil2, tetapi hal tsb secara normal tidak dapat dilakukan dikantor. Pelanggaran terhadap hal itu - Nurani berhenti makan karena sudah cukup, Akal berhenti makan karena perut sesak, kekenyangan atau sudah mual - Nurani tidak mau memakan sembarang, Akal mencoba segalanya (terkadang ajimumpung dg berfikir kapan lagi bisa makan itu). - Bila terhindar dari konsumsi buruk, Nurani lega karena tubuh tidak rusak, Akal menyesal karena kehilangan kesempatan baik - Bila mencicipi makanan enak, Nurani mencicip dan berbagi rasa dengan yang lain, Akal ingin menghabiskan untuk kepuasan diri sendiri - Makanan sehat yang perlu dikonsumsi tubuh tapi karena rasanya tidak enak Akal pasti menolak/berat hati, Nurani tetap menyantapnya dan melupakan rasanya - Makanan yang tidak diperlukan tubuh tapi atas rasa gengsi Akal dan takut kurang bergaul maka tetap dikonsumsi (Apa saja itu, bila anda berAkal anda bisa menjawab sendiri)
Pada baju: - Dengan pakaian / sepatu sesak atau tidak ergonomis, tidak sesuai dengan bentuk, lekuk maupun postur tubuh tetapi dikenakan demi kepadanan atau penampilan, padahal hal tsb merusak tubuh. Contoh Wanita yang bertubuh gemuk tentu sudah cukup sulit menopang tubuhnya, tetapi ia tidak mau (atau tidak mampu) menghadapi kenyataan tsb dan tetap menggunakan sepatu hak tinggi yang tentu sangat membebani kaki dan ia sering mengalami nyeri2 dikaki bahkan pening dikepala yang tiada sembuh dengan obat sakit kepala. Atau orang yang ingin perutnya terlihat kecil dengan pengikatan ikat pinggang yang kencang atau mengenakan korset. Iya tidak sadar bahwa saat mencerna makanan perut membutuhkan area bebas untuk melakukan gerakan2 peristaltik, karena area bebas tsb dipersempit maka pencernaan maupun daya olah makanan / asupan menjadi terganggu.
Pada olahraga: - Tanpa pemanasan karena sudah terlambat atau demi target tertentu memaksakan tubuh melakukan olah raga tsb sehingga mudah terkilir, kram dll - Melakukan tindakan2 yang over dari kemampuan tubuh misal demi penampilan yang menarik, demi piala (setelah perjuangan latihan bertahun), demi penaklukan lawan
Pada pekerjaan: - Tetap pergi bekerja menentang hujan, cuaca, saat diri sedang sakit demi rasa takut dengan atasan, demi jadwal
Konflik karena terjadi kontra antar Akal (yang tidak baik) dengan Nurani sangat sering terjadi dalam hidup kita sehari2 dan saling berpadu, bahkan kita akan sering permisif atas apa yang tidak baik itu, contoh yang ringan adalah sbb:
Dalam hal Fitness: Nurani memperbaiki tubuh yang rusak agar kembali normal, Akal (karena ingin dilihat bagus oleh orang lain bukan untuk sehat) melakukan beberapa olah tubuh secara ekstra, contoh jelasnya Body building, Dengan latihan wajar tubuh sudah cukup terolah dengan baik, tetapi orang masih ingin membentuk tubuh menjadi bentuk ideal inipun masih oke (wajar, banyak yang melakukan), tetapi lalu persaingan antar manusia ingin melakukan lebih dibanding yang lain sehingga bentuk otot tubuh menjadi berlebih (dan dengan mengkonsumsi asupan yang dibutuhkan khusus utk pengembangan tubuh maka sakit tubuh diperbaiki oleh Nurani) dan kenyataannya hasilnya tidak ideal untuk kegiatan sehari-hari, otot menjadi kaku. Dan bahkan banyak yang tubuhnya jadi sakit atau berkembang tidak sempurna karena salah dalam melakukan pengembangan.
Dalam hal Merokok: Kita tahu bahwa selain nikmat rokok juga merusak tubuh. Tubuh seringkali menolak rokok misal dengan batuk (batuk yang dianggap alamiah), namun manusia tsb tidak mampu menghentikan rokoknya dan menganggap batuk tsb disebabkan dari hal yang lain. Jelas rokok memperlemah stamina bahkan daya tahan tubuh tetapi karena mental orang tsb yang kurang kuat dalam menghadapi hidup maka orang tsb mencari pelarian dengan berharap mendapatkan sensasi berupa stimulan dari rokok yang dihisapnya.
Kini, masihkah kita akan melupakan kepentingan Tubuh kita dengan membiarkan konflik Akal dan Nurani ? Silakan baca AWAM melihat KONFLIK TUBUH.
Salam hangat
Sang Awam.
Sang Awam berharap ulasan ini menarik untuk dapat lebih digali dan diolah lebih mendalam dimana Sang Awam meyakini bahwa pada dasarnya perilaku atas hasil kerja 3 komponen utama: Tubuh, Akal dan Nurani.
Tubuh adalah sebagai media bagi manusia tsb utk berinteraksi dengan alam melalui indra2nya (yang tidak akan dibahas sang Awam karena ini bukan pelajaran biologi hehe).
Akal secara dominan mempengaruhi otak dan karena otak mengendalikan Tubuh maka akal secara tidak langsung juga mengendalikan tubuh.
Sedangkan Nurani "Pada dasarnya" adalah bekal dari Sang Pencipta, Sang Khaliq yang sudah tertanam dalam tubuh kita. Bekal tersebut pada dasarnya telah sempurna sedari lahir dan tidak dapat berubah oleh siapapun kecuali, tentu Sang Penciptanya. Semua hal dasar mengenai kebenaran telah tertanam pada Nurani, contoh: manusia harus berkata / melakukan hal yang baik; tidak boleh berbohong; mau menolong; tidak boleh menyakiti; dll karena fungsi Nurani adalah menjaga manusia untuk tetap menjadi Mahluk yang Mulia (baca AWAM terhadap KEMULIAAN).
Tidak seperti Akal (yang bekerja atas olahan otak, kebutuhan, logika dimana selain itu ternyata Akal juga bekerja atas pengaruhi pihak lain, pemikiran Agama dan bahkan hasutan Setan) Nurani bekerja secara independen dan tanpa pengaruh siapapun
Atas dasar apa Sang Awam menganggap Nurani telah sempurna sedari lahir? Otak (sebagai bagian dari tubuh dan diyakini sebagai pengendali tubuh yang utama) sudah tentu memorinya kosong saat dilahirkan. Spt Sang Awam katakan bahwa Nurani untuk menjaga perilaku manusia agar tetap Mulia dan Nurani ada dalam tubuh. Nurani juga mengendalikan otak kita dengan "Dasar Perilaku Yang Benar". Cara eksekusi Nuranipun terhadap Tubuh sangat simpel: bila baik lakukan dan bila tidak baik jangan lakukan, Nurani tidak punya nafsu tetapi punya Sabar, Nurani tidak punya rasa tapi punya instinc. Itu alasan mengapa sang Khaliq mengatur Tubuh agar mudah menuruti Nurani bahkan seringkali tanpa perintah karena memang sifat Nurani yang mulia. Dan begitu mulianya nurani sehingga bila manusia setelah melihat sesuatu yang memilukan lalu melakukan perbuatan yang baik diistilah bahwa manusia tsb "terketuk nuraninya".
Sang Awam mencoba memberikan perumpamaan mudah mengenai Nurani (Bagi yang sulit mengartikan pengaruh Nurani pada tubuh) yakni semisal Otak adalah Komputer maka Nurani adalah seperti ROM (Read Only Memory), atau bila Otak adalah pengurus Organisasi maka Nurani adalah AD/ART (Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga). ROM tidak pernah dapat berubah isinya dan fungsi dasarnya adalah menjadi acuan baku bagi komputer dalam memproses / melakukan pekerjaan. AD/ART dibuat sebagai acuan dasar pengurus organisasi dalam melakukan kerja.
Ingat sekali lagi Nurani bukan hanya ada dihati, Nurani bukan hanya ada diotak, Nurani ada pada seluruh tubuh, sebagai Live Dictionary bagi tubuh.
Selain Nurani, dalam menjalani hidup manusia juga memiliki bekal lain yang lebih dominan mengendalikan tubuh, suatu bekal yang memerlukan otak sebagai mitranya, Akal (baca AWAM menggunakan AKAL). Dan dengan perumpamaan Otak adalah Komputer maka Akal adalah CPU (Central Processing Unit). Akal secara "de facto" mempengaruhi otak untuk mengendalikan Tubuh lainnya. Otak yang pintar biasanya dianalogikan otak yang ber-Akal. Kepintaran tsb bukanlah gift melainkan sebagai olahan dari apa yang diperoleh otak. Dengan demikian Akal membutuhkan banyak hal (data, pengalaman, logika dll) utk memerintahkan Tubuh untuk melakukan suatu aksi/reaksi. Dalam segala perilaku manusia tubuh akan lebih mudah dikendalikan bila diperintah untuk melakukan hal yang sesuai Nurani (karena sudah tertanam) akan tetapi Akalpun memiliki kuasa lebih atas Tubuh untuk melakukan suatu tindakan.
Contoh ringan: Nurani bereaksi atas kesedihan / keprihatinan sambil melakukan tangis dan memompa jantung (dengan degup). Banyak yang tahu bahwa tangis berguna mengeluarkan emosi. Dan saat prihatin / sedih tsb mata kuyu dan badan akan lemas / lunglai, maka dari itu jantung otomatis bekerja ekstra untuk menguatkan tubuh. Dan tubuh otomatis memancarkan energi kesedihan tsb, bila energi tsb diterima orang sekitar (yang sensitif atas gelombang2 energi tsb) maka segera terasa pancaran kesedihan.
Tetapi Akalpun bisa membuat orang mengeluarkan tangis dimana tangisan tsb bukanlah hasil dari suatu yang naluriah, dan sebenarnya cara mengetahuinya sangat mudah, mata orang tsb tegang (karena ngotot untuk mengeluarkan air mata secara paksa), jantungnya tidak berdegup kencang dan badan tidak lunglai, dan yang utama orang yang sensitif atas pancaran energi tidak akan merasakan kesedihan orang tsb.
Penjelasan lain mengenai pengaruh Nurani atas tubuh serta sensitifitas tubuh atas Energi bisa dibaca pada AWAM terhadap TUBUH.
Contoh sedang: Ternyata Nuranilah yang mengendalikan Refleks. Gerak refleks, senantiasa dikatakan gerakan bawah sadar, karena tanpa analisa dari Akal dan tanpa perintah tubuh akan langsung bergerak. Adapun gerakan refleks berbeda dengan gerakan hemistasi. Reflek adalah gerakan cepat, responsif sebagai suatu reaksi. Sedangkan hemistasi adalah gerakan natural otot yang otomatis melakukan pengenduran / saat setelah terjadi stressing pada otot tsb.
Ingat satu hal bahwa gerakan satu anggota tubuh bukanlah atas tarikan satu dua otot melainkan gerakan banyak bahkan ribuan otot secara kompak. Dan gerakan refleks pasti merupakan penghindaran atas suatu hal yang membahayakan atau menyakitkan.
Dalam hal refleks apakah mungkin Tubuh bisa bergerak sendiri tanpa perintah? Well, Sang Awam memilih menjawab TIDAK (entah anda sepaham atau tidak). Adapun jawaban yang diperlukan tidak sekedar YA / TIDAK tetapi dengan lebih memperdalam siapa / apa yang menggerakan Tubuh tsb.
Penjelasan mendetail mengenai pengaruh Nurani atas Refleks bisa dibaca pada AWAM terhadap TUBUH
Contoh mendalam: Nurani tidak pernah tidur! Saat kita tertidur Akal kita akan beristirahat namun tidak demikian dengan Nurani. Ilmuwan telah memastikan bahwa perbaikan sel yang paling efektif adalah saat tubuh sedang tertidur. Bila tanpa Otak/Akal lalu "apa" yang memberitahukan tubuh mengenai cara memperbaiki dirinya? Pemikiran dangkal akan menjawab "Oh itu sudah dari sananya, spt yang diajarkan ilmu biologi bla bla.." namun penjelasan tsb ternyata akan terpentok. Ingat salah satu inti perintah Nurani pada tubuh adalah ”bila baik maka lakukanlah dan lakukan yang benar” maka Tubuh dapat memperbaiki diri secara benar dan bertahap. Lebih dari itu tidak ada anggota tubuh yang saling berebut dalam mengatur sel tubuh mana yang akan diperbaiki terlebih dahulu semua dengan skala prioritas yang sangat sempurna berbekal asupan vitamin, mineral, protein dll yg diterima tubuh manusia.
Bayangkan bila Akal ikut campur mengatur tubuh saat memperbaiki diri, mungkin sekali Akal tidak akan melakukan perbaikan secara adil, Sang Awam sangat yakin bila itu terjadi pasti Akal manusia hanya akan mengkonsentrasikan segala asupan hanya untuk memperindah tampak luar manusia saja (agar keliatan manteb dan kece gitu loh, kata anak2 muda), mengutamakan perbaikan wajah, memperindah bentuk luar tubuh dll. Ternyata begitu mulianya Nurani yang bersifat sangat Adil, memperbaiki anggota tubuh berdasarkan prioritas kesehatan, dan dalam hal body recovery belum pernah sekalipun Tubuh kita salah perbaikan bukan?.
Sang Awam bahkan meyakini bahwa mimpi yang kita alami sebenarnya disutradarai oleh Nurani dengan melakukan banyak impuls terhadap otak yang stress (akibat pengaruh Akal saat tubuh masih terbangun). Terkadang ada orang yang mulut bergerak / bahkan berbunyi hal tsb sebagai perbaikan stress area mulut (yg mungkin banyak tegang mengucapkan kata2 yang tidak patut). Atau saat tidur terkadang manusia mengigau sampai mengucapkan sesuatu (sebagai ungkapan riil atas sesuatu yang ia sebenarnya tidak berkenan). Lalu apa yang terjadi dengan orang ngelindur? itu adalah kendali total Nurani dalam gerakan tubuh manusia. Buktinya? sejauh sepengetahuan Sang Awam, saat orang mengingau maupun ngelindur hanya melakukan aktifitas biasa dan tidak pernah melakukan kegiatan yang menyakitkan orang lain maupun menyakiti tubuh sendiri.
Sebenarnya masih sangat banyak contoh pengaruh Nurani dalam perilaku dasar manusia yang terlalu panjang bila dibahas satu persatu, Sang Awam dengan senang hati membahas / mendiskusikan hal itu dengan anda pada kesempatan lain. Dengan contoh2 ringan diatas kita ketahui kekuatan hebat Nurani dalam mengendalikan Tubuh, namun disisi lain Akal juga mempunyai kendali terhadap Tubuh.
Berdasarkan semua diatas jelaslah bahwa Tubuh bekerja secara Nurani dan kemudian Akal dapat melakukan perintah pula, Disaat Akal sejalan dengan Nurani dalam melakukan sesuatu maka tubuh akan sangat luwes melakukannya, karena itu Manusia yang Sempurna adalah yang kerja sama Nurani dan Akalnya sangat harmonis atau sejalan.
Setelah melihat begitu besar kekuatan, kebaikan Nurani serta daya sembuhnya yang DAHSYAT, Sewajarnyalah manusia yang Mulia dengan Akal yang sehat akan termotivasi untuk mulai melakukan hamoninasi antara Akal dan Nurani. Bila anda selama ini telah hidup berdasarkan Nurani maka kita akan mengakui hal diatas, namun bila Akal anda telah secara dominan mengalahkan Nurani maka anda akan mencemoohkan hal diatas.
Sudahkah kita bertindak berdasarkan Nurani? pssstt... sudahlah.. kita tak usah repot2 menjawab, biarkan Nurani yang menilai kebenaran jawaban kita sendiri.
Selanjutnya bila anda ingin tahu lebih lanjut mengapa TUBUH SERING MERASA SAKIT dan apa peran Nurani atas hal tsb maka sang Awam menganjurkan anda untuk membaca AWAM melihat KONFLIK TUBUH
Salam,
Sang Awam
Pada artikel AWAM menyentuh NURANI telah dibahas betapa Nurani sangat berpengaruh pada tubuh. Lalu apa peran AKAL dalam kehidupan manusia? Akal adalah suatu keistimewaan yang diberikan oleh Sang Khaliq pada Manusia dan yang membedakan Manusia dengan mahluk lainnya, Akal pula yang jelas sebagai icon bahwa manusia adalah mahluk yang Mulia dan Sempurna. Manusia dimanapun mengetahui dan mengakui keunggulan Akal. Dalam kehidupan kita sehari2 saat kita terpentok pada masalah yang sulit terpecahkan otak maka seringkali kita mengunakan solusi Akal. Tergelitikkah anda untuk mengetahui dimana sebenarnya letak Akal tsb? apakah Akal = Otak? Bila anda termasuk yang berpendapat bahwa Akal diidentikan bagian dari Otak maka sewajarnya bisa diketahui letak persis Akal pada otak. Coba tanyakan kepada ahli medis, dimana persisnya letak Akal? Anda tidak akan mendapat jawabannya bukan? Bila Akal = Otak atau dianggap bagian dari otak bukankah berarti Akal juga ada pada kera, kambing, ikan teri? tetapi ternyata tidak bukan? Kita mengetahui fungsi otak adalah utk berfikir, mengingat, menganalisa, menginstruksikan tubuh utk bergerak dll. Contoh konkritnya ilmu eksakta sepenuhinya bisa dipahami cukup dengan Otak saja. Lalu kembali dengan pertanyaan diatas, apakah berarti Akal beda dengan Otak? Sang Awam meyakini bahwa jawabannya adalah YA. Dan Akal sungguh merupakan systems balancing yang telah diciptakan sang Khaliq. Pada bahasan AWAM menyentuh NURANI jelas sang Awam utarakan peran Nurani yang mengendalikan Tubuh (termasuk Akal) sedangkan Akal tercipta sebagai media yang hanya bisa mempengaruhi Otak tetapi tidak terhadap Tubuh. Contoh konkritnya ilmu Agama tidak cukup dipahami dengan Otak, melainkan harus dengan Akal sedangkan pemahaman agama secara Iman itu adalah pemahaman secara NURANI. Untuk memahami perbedaan respon manusia atas ilmu Agama dan ilmu Eksakta bisa anda lihat pada AWAM memahami AGAMA. Akal hanya bisa berfungsi via Otak (karena memang hanya bisa mempengaruhi Otak) dimana biasanya pada orang yang cacat mental atau cacat otak maka Akalnya juga rusak sedangkan Nurani mereka akan tetap ada. Apabila perintah Akal kontradiktif dengan Nurani maka akan terjadi Konflik Tubuh. (Baca AWAM melihat KONFLIK TUBUH). Perbedaan yang jelas antara Akal dan NuraniAkal dapat bekerja atas hasil olahan otak, kebutuhan manusia tsb, logika, kesempatan dll. Dan selain itu ternyata Akal juga bekerja atas pengaruh pihak lain, pemikiran Agama dan bahkan hasutan Setan Sedangkan Nurani sangat teguh dan tidak dapat dipengaruhi apapun maupun siapapun. Akal memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Nurani yakni senantiasa berkembang. Dan solusi / reaksi atas sesuatu akan mungkin berbeda cara mengakali antara satu kasus dengan yang lainnya. Mengenai kelebihan tersebut sang Awam tidak mengatakannya sebagai suatu keistimewaan karena kelebihan tersebut bisa pula condong ke sesuatu yang negatif. Sang Awam melihat fakta sekitar sering terjadi bahwa orang yang jelas melakukan hal negatif (bahkan kenegatifan tsb diakui oleh ybs) tetapi hal yang negatif tsb tetap dilakukan, terkadang mencari pembenaran atas perilaku negatif tsb dan bahkan kerap disampaikan sebagai suatu kebanggaan. Tetapi sang Awam cukup jeli memperhatikan gerak-gerik orang spt itu dimana setelah ia mengucapkan kebanggaan semu tsb lalu mulut atau tangannya bergetar yang mana berarti tubuh orang tsb mulai Konflik karena sang Nuraninya prihatin atas perilaku Akal orang tsb tetapi ditahan oleh Akalnya. Sang Awam bersyukur mendapat karunia dari sang Khaliq untuk jeli mampu memperhatikan hal yang seperti itu pada orang sekitar. Sebenarnya Akal bukanlah suatu yang sahih untuk diajarkan kepada orang lain, karena varian dari akal akan banyak sekali. Solusi dari orang yang berakal bila diberikan kepada yang kurang akal hasilnya akan berlainan. Akal2an yang bisa dilakukan seseorang belum tentu dapat dilakukan orang lain. Itu bukan mutlak karena orang yg tidak dapat melakukan tsb adalah kurang akal namun bisa juga karena JUSTRU cukup kuat untuk mengikuti nurani sehingga mampu menolak Akal yang tidak baik dan mencari solusi lainnya. Otak selalu menghitung 1 + 1 adalah 2 sedangkan dengan Akal jawabannya mungkin 1 atau 3 tergantung bagaimana Akal melihat konsekuensi dari jawaban atau respon yang diharapkan oleh Akal tsb. Sekalipun demikian Akal sebenarnya mengakui bahwa 2 adalah jawaban yang benar. Pengingkaran atas kebenaran tersebutlah yang seringkali mengakibatkan KONFLIK TUBUH (Baca AWAM melihat KONFLIK TUBUH) Kini tinggal tergantung pada kita, selaku manusia, yang (katanya) pintar, seberapa jauh mau mengakali sesuatu? akankah kita selalu melakukan sesuatu secara akal2an negatif? ataukah kita akan mencoba akal positif yang akan mendominasi? Ataukah kita ingin mencoba untuk melakukan sesuatu dengan cara yang biasa dulu, tanpa akal2an? semua ada efeknya sendiri2, semua ada konsekuensi yang berbeda dan hasilnya toh kelak akan kembali kepada kita. Jadi semua itu kembali kepada anda. Sudah matang dan benar kah Akal2an anda selama ini? pssstt... sudahlah.. kita tak usah repot2 menjawab, biarkan Nurani yang menilai kebenaran jawaban kita sendiri. (Lho kok mengapa Nurani yang harus menjawab? hal itu karena jawaban tsb utk diri anda sendiri jadi biarkan Nurani menjawab dengan kejujurannya, Tetapi bila jawaban anda tsb untuk diketahui orang lain, anda tidak usah repot2 menjawab karena sang Awam meyakini bahwa anda pasti akan menjawabnya dengan kata SUDAH, bukankah begitu? Bila anda telah juga membaca AWAM menyentuh NURANI dan AWAM melihat KONFLIK TUBUH mungkin anda laik untuk membaca AWAM memahami AGAMA. Salam, Sang Awam
| |