Abimanyu Panca Kusuma's posts with tag: iklas

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag iklas
Blog EntryAWAM mengartikan IKHLASJan 17, '06 9:35 AM
for everyone

Suatu hari seorang rekan bertanya kepada Sang Awam, "Bagaimana caranya agar bisa ikhlas?" hmm... pertanyaan yang menarik untuk dikupas lalu sayapun rela membagi waktu menggali bagaimana agar kita bisa iklas, disini Sang Awam ingin kembali mengulas soal ikhlas itu. Ikhlas intinya adalah suatu perpaduan antara kerelaan dan tanggung jawab.

"Rela" yang Sang Awam maksudkan disini adalah kerelaan untuk melepaskan SESUATU dari kita dimana sesuatu itu bisa merupakan Benda, Masa Indah, Posisi, Relasi Bisnis, Klien dll. Kerelaan tersebut akan dengan sendirinya pasti timbul apabila disertai keyakinan bahwa:
1. Mungkin hal itu terjadi karena waktu bagi kita untuk dapat menikmati dan memanfaatkan SESUATU tersebut telah usai (anggap saja saat memiliki SESUATU itu kita sedang menyewa dari Sang Khaliq) dan anggap bahwa kini SESUATU itu giliran dipindahkan kepada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan.
2. Sungguh suatu pemikiran yang legowo bila kita bisa berpendapat bahwa SESUATU tersebut dipindahkan ke orang lain karena mungkin Sang Khaliq melihat bahwa orang tersebut dapat lebih memanfaatkan SESUATU itu dibandingkan masa-masa disaat SESUATU tersebut ada pada kita. Dan tentu dalam keadaan ini kita sewajarkan cukup melakukan instrospeksi diri untuk mengulas kembali apa saja yang telah kita lakukan terhadap SESUATU itu (saat ada pada kita), setelah evaluasi tsb lalu intisarikan, perilaku yang baik terhadap SESUATU tersebut sebaiknya kita ingat (simpan baik-baik) sedangkan perilaku kita yang buruk atas SESUATU itu sebaiknya kita cari tahu bagaimana seharusnya kita memperlakukan SESUATU tersebut. Mengapa Sang Awam menganggap bahwa evaluasi tersebut diperlukan?. Tujuannya adalah apabila suatu saat SESUATU itu "kembali ada pada kita" maka akan kita akan pergunakan/perlakukan dengan lebih baik lagi daripada kesempatan yang sebelumnya (yang telah lalu).
3. Mungkin saya selepas dari kita lalu SESUATU tersebut malah jatuh ke orang yang (menurut kita) kurang baik dibandingkan kita. Bila hal itu yang terjadi sebaiknya kita berharap dan berdoa semoga SESUATU itu bisa menjadi jalan agar orang tersebut menjadi insan yang lebih baik. Doa kita tersebut akan menjadi sesuatu yang indah yg pernah muncul dari diri kita. Dan doa tersebut jauh lebih baik daripada kita hanya memaki atau mencibir orang tersebut, yang mungkin terkesan bahwa kita menjadi iri karena SESUATU tersebut telah lepas dari kita atau menjadi milik orang lain?
4. Dan dapat juga kita menganggap bahwa SESUATU itu telah dilepas dari kita karena Sang Khaliq akan memberi atau menggantinya dengan SESUATU yang lebih baik lagi. Sang Awam yakin bahwa tidak ada Manusia yang tidak ingin menerima SESUATU yang lebih baik, karena hal itu adalah merupakan pemikiran yang wajar-wajar saja dan belum merupakan suatu yang rakus. Tetapi bila kita ingin tetap memiliki SESUATU tersebut dan pada saat yang bersamaan kita ingin pula menerima SESUATU yang lebih baik lagi, maka itulah sesungguhnya mendekatkan diri kita pada ketamakan. Memiliki Segala SESUATU yang baik belum tentu suatu hal yang baik karena kita tidak pernah tahu bahwa dengan memiliki semuanya maka mungkin saja semua KUMPULAN DARI RAGAM SESUATU itu bukan lagi suatu yang indah untuk dinikmati melainkan menjadikan beban atau justru merusak atau suatu yang bersifat mudharat bagi hidup kita. Lebih dari itu ketamakan tersebut akan membangkitkan rasa iri atau dendam orang lain atas apa yang kita miliki dan tentu sedikit banyak bisa menjadi suatu yang buruk bagi kita. Menurut Sang Awam senikmat-nikmatnya hidup adalah bila kita bisa terhindar dan terlindungi dari rasa iri, dengki dan dendam orang sekitar kita.


Inti dalah menerima SESUATU adalah "bagaimana atau seberapa siap diri kita untuk dapat menerima SESUATU tersebut".
1. Siap untuk menanggung segala resiko buruk yang mungkin timbul karena SESUATU tersebut.
2. Siap untuk memanfaatkan SESUATU tersebut demi kebaikan diri maupun kebaikan sekitarnya.
3. Melakukan upaya mengetahui batasan dari SESUATU tersebut sehingga kita dapat memeliharanya dengan baik.
4. Mengupas diri dan mengolah kemampuan, kelebihan, kekurangan, kelemahan dari SESUATU tersebut.
5. Melakukan perencanaan yang matang mengenai apa yang akan dilakukan terhadap SESUATU itu.
6. Siap menerima apabila SESUATU itu tidak lagi utuh ditangan kita atau lepas dari kita, Siap dengan keRELAan penuh.
7. Dan yang lebih legowo adalah siap untuk MENOLAK menerima SESUATU tersebut apabila menurut kita, secara moral atau secara hak kita tidak berhak menerima SESUATU tersebut. Dan Sang Awam akui, bahwa sikap SIAP MENOLAK tsb (karena tidak berhak) sekalipun baik tetapi sulit untuk dilakukan kita, manusia.


Bila kita telah memiliki keRELAan dan kesiapan tersebut maka kita akan selalu dapat IKHLAS menerima SEGALA SESUATU. Dan memang perlu kita akui tidak mudah untuk melakukan itu semua, maka dari itu IKHLAS adalah suatu ILMU yang perlu dipelajari, diasah, diolah untuk dapat semakin baik dan semakin baik lagi.

"Lalu adakah cara mudah untuk melakukan keIKHLASan?" itu pertanyaan lain dari rekan Sang Awam yang saya jawab bahwa cara mudah MEMBANGUN RASA IKHLAS adalah dengan MEMBUANG RASA MEMILIKI !! Perlu disadari bahwa pada dasarnya saat kita lahir tidak memiliki suatu apapun dan akan mati tanpa membawa suatu apapun maka dari itu segala apa yang ada disekitar kita bukanlah SESUATU yang menjadi milik kita.

Rasa memiliki SESUATU itulah justru yang harus kita hindari. Bila kita renungkan dengan baik akan kita sadari bahwa SESUATU itu bukanlah milik kita melainkan sekedar SESUATU YANG ADA DISEKITAR KITA. Bila kita takluk pada rasa memiliki maka kita akan justru menjadi budak dari apa yang kita miliki tersebut karena dari waktu ke waktu kita selalu hanya akan berfikiran bagaimana agar MILIK kita tetap menjadi MILIK kita.

Ingat bahwa SESUATU yang ADA kelak akan menjadi SESUATU yang TIADA karena semua yang sifatnya kebendaan tidaklah Kekal.

Dengan rasa memiliki kita akan hanya berfikir dan berfikir (dengan amat sangat), berjuang dan berupaya melakukan segala cara sehingga kita tidak tahu lagi (atau dibutakan untuk mampu berfikiran jernih) apakah cara kita masih benar ataukah sudah tidak benar. Lalu justru pada saat itu kita akan kehilangan kendali diri dan bahkan bisa lupa diri. Ketahuilah bahwa di saat anda tidak bisa mengendalikan diri (terlalu ingin mempertahankan SESUATU tersebut) maka justru saat itulah malah SESUATU itu akan AMAT SANGAT MUDAH LEPAS dari kita.

Yang Sang Awam maksud dari MEMILIKI SESUATU sifatnya bisa sangat bermacam ragam, dari yang sifatnya kebendaan maupun yang lainnya.
Coba kita renungkan beberapa contoh berikut:
1. Saat kita punya rasa memiliki suatu benda maka saat benda itu hancur/hilang kita ikut merasa hancur dan kita melupakan hal lain yang masih ada sehingga terbengkalai dan tanpa kita sadari yang lainnya menjadi hancur/hilang pula.
2. Saat kita merasakan keberhasilan kita adalah dengan adanya benda tersebut maka sebenarnya kita telah mengecilkan arti kita sendiri yang dipercaya Sang Khaliq untuk memelihara benda tersebut.
3. Bila kita hanya berupaya dan berupaya MENDAPATKAN suatu benda sehingga kita terjerat nafsu (ingin memiliki) biasanya kita bahkan berani merelakan / melupakan benda lain (yang hanya kita bandingkan dari angka nominal atau dg nilai menurut manusia). Tetapi kita tidak pernah tahu bahwa kelak benda yang kita abaikan (dengan kata lain lepas TANGGUNG JAWAB atas benda tersebut) sebenarnya yang lebih layak untuk kita pelihara (bermanfaat melindungi atau mengangkat nilai kita sebagai Manusia yang benar).
4. Saat kita kehilangan proyek / kalah tender kita merasa kecewa karena BERANGGAPAN bahwa atas segala upaya yang telah kita lakukan sewajarnya proyek tersebut harusnya MILIK kita (harusnya kita yang menjalankan). Tapi sebenarnya kita tidak pernah tahu bagaimana kelak hasil akhir dari proyek tersebut? akankah hasilnya kelak menjadi suatu yang baik bagi kita? atau bahkan bisa menjadi suatu yang buruk bagi kita (karena gagal melaksanakan atau terkendala karena alasan apapun). Bila hasil akhirnya akan menjadi buruk bukankah dengan kalahnya kita atas proyek tersebut maka kita terhindar dari kehancuran ? Dan bukankah dengan terlepasnya kita dari suatu proyek maka kita PUNYA KESEMPATAN memenangkan proyek lainnya? Atau dengan dijauhkannya kita dari suatu proyek yang mungkin kita tidak sanggup menjalaninya maka kita justru akan terhindar dari catatan buruk?
5. Bila SESUATU itu merupakan suatu pasangan kita dan kita beranggapan bahwa kita memiliki pasangan kita tersebut maka dalam kehidupan berpasangan seperti itu justru sebenarnya kita tidak pernah mengetahui mengenai "siapa yang memiliki siapa"? Apakah kita memiliki dia ? atau sebaliknya?. Perlu diingat bahwa rasa memiliki atau SESUATU akan membuat kita cenderung MENGATUR milik kita tersebut. Sang Awam percaya bahwa kehidupan berpasangan yang SALING MENGATUR satu dengan yang lainnya tidak akan pernah menjadi hubungan yang langgeng. Cobalah untuk memendam rasa memiliki dan menggantinya menjadi rasa saling membutuhkan dan hal itu akan menimbulkan suatu tanggung jawab dari masing-masing. Tanggung jawab terbesar dalam kehidupan berpasangan adalah justru "menjaga hubungan" tersebut dalam arti yang seluas luasnya.
6. Banyak lagi contoh lain yang tidak bisa Sang Awam jabarkan diantara waktu sempit yang mampu Sang Awam luangkan, coba kembali lagi ke Blog ini pada kesempatan mendatang mungkin Sang Awam bisa menjabarkan contoh lainnya.

Suatu hal yang sangat berkaitan dengan IKHLAS ini adalah penerimaan diri terhadap suatu TAKDIR. Untuk itu harap lihat topik AWAM membaca TAKDIR.


Salam,
Sang Awam


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help