Abimanyu Panca Kusuma's posts with tag: mulia

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag mulia
Blog EntryAWAM menuju KEMULIAANFeb 8, '06 9:11 AM
for everyone

Sering kali kita mendengar/dinyatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mulia. Namun tanggapan yang sering terjadi atas predikat tersebut adalah ternyata sebatas sebagai kepuasan manusia atas predikat tersebut atau bahkan ada juga yang tanpa disadari memanfaatkan predikat kemuliaan tersebut untuk kesewenangan.

Secara mendasar pernyataan mulia (bila disampaikan antar manusia) adalah suatu pengakuan absolut bahwa Yang Mulia tersebut lebih baik daripada kita. Sehingga menjadi hal yang umum bahwa sesuatu yang dianggap mulia akan dijunjung setinggi-tingginya. Dan suatu yang lumrah bila yang mendapat predikat mulia akan menjaga kemuliaannya sebagai suatu strata pengakuan total dari lingkungan sekitar. Penerima atau penyandang predikat Yang Mulia akhirnya akan berupaya menjaga kemuliaan melalui segala cara dari yang wajar sampai yang tidak wajar.

Tetapi ingatkah kita (sebagai manusia) bahwa kita perlu menjaga kemuliaan tersebut ? Bagi Sang Awam cara wajar menjaga kemuliaan itu adalah dengan menjaga dan memelihara alam sekitar (tempat kita hidup), lalu berhubungan baik dengan sesama mahluk hidup (baik manusia maupun hewan dan tumbuhan). Salah satu pewujudan atas pemuliaan diri dalam mengendalikan alam sekitar dapat dimulai dengan pengendalian diri manusia itu sendiri yaitu Pengendalian diri atas akal dan nurani.

Dan kita perlu sadari pernyataan level manusia adalah mahluk yang Mulia bukanlah oleh diberikan oleh mahluk lain tetapi justru pernyataan langsung dari Sang Pencipta sendiri. Namun demikian tentu pernyataan tersebut bukanlah berarti manusia lebih mulia daripada Sang Penciptanya, melainkan (bagi yang mengerti) hal itu merupakan suatu perintah dariNYA agar manusia bertanggungjawab menjaga martabat kemuliaan yang telah dianugerahkan olehNYA.

Sebagai sesuatu yang mulia berarti sewajarnya kita tidak memuliakan benda lain karena sebenarnya Yang Lebih Mulia diatas manusia hanyalah satu yaitu Sang Khaliq, Sang Pencipta. Namun kenyataannya banyak sekali manusia (sadar ataupun tidak sadar) dengan begitu bodohnya secara spesifik memuliakan benda lain (bahkan benda yang dibuat oleh manusia lain) dan dengan sendirinya manusia yang memuliakan benda tersebut telah mengerdilkan arti diri dia sendiri sebagai mahluk yang (tadinya) mulia.

Inti dari semua pernyataan diatas, sang Awam ingin menjelaskan, bahwa sesuai Pemeo: Mendapat memang lebih mudah daripada Mempertahankan, maka hal itu berlaku bagi manusia dimana mendapatkan martabat Mulia saja tidak cukup apabila kita tidak mempertahankannya Kemuliaan kita sendiri dan kalau kita mau jujur pada diri sendiri maka pasti jawabannya adalah "Ternyata SULIT untuk menjaga Kemuliaan yang benar"

Contoh umum pengerdilan manusia atas dirinya adalah dengan menggantungkan hidup atas manusia lain yang dapat dijelaskan seperti berikut:
Sudah jelas bahwa manusia diciptakan Sang Khaliq secara sendiri2 saat lahir, dan bukankah manusia berkembang secara sendiri2 sejak lahir? Namun yang terjadi banyak sekali anggapan bahwa manusia telah diciptakan oleh orang tuanya !! kekerdilan pemikiran tersebut harus dikoreksi bahwa kita bukanlah "ada karena diinginkan orangtua kita", melainkan "kita ada karena dikehendaki olehNYA, Sang Pencipta", dan orang tua sebagai insan yang melahirkan kita tetapi bukan menciptakan kita!! (baca AWAM terhadap CIPTAAN) Dan pendapat bodoh tersebut (bahwa manusia diciptakan oleh orang tuanya) dalam perjalanan hidup manusia tersebut sadar maupun tidak sadar membentuk suatu ketergantungan mutlak kepada orangtuanya sehingga manusia tersebut tidak dapat berkembang sebagai insan yang utuh dan mandiri (melainkan sekedar sebagai insan yang merupakan cerminan atau patokan dari orang tuanya).

Harap ungkapan diatas jangan anda salah artikan bahwa Sang Awam tidak menghormati orang tua. Sang Awam sangat menghormati orangtua yang membimbingnya sedari kecil. Sang Awam memiliki kewajiban dan kesadaran penuh menghormati orang tua adalah atas jasa dan pengorbanan mereka dalam membesarkan dan membina kita. Salah satu bentuk penghormatan sang Awam terhadap orangtuanya adalah dengan menjadi insan yang mandiri dan berupaya secara total menghindari ketergantungan kepada orang tua dan tidak mengeluh / mengadu kepada orang tua saat sang Awam terlibat masalah. Orang tua sudah cukup membimbing sang Awam sedari kecil dan setelah sang Awam cukup umur maka selayaknya bagai burung ia terbang dengan harapan orang tua bisa menikmati masa tuanya hanya dengan cukup mendengar yang indah2 saja dari sang anak dan tidak perlu mengetahui problema sang Awam, tidak perlu membantu dan melindungi sang Awam (dengan keyakinan bahwa Sang Khaliqlah yang senantiasa dapat melindungi dan membantu sang Awam). Karena kenyataan telah membuktikan selama ini semua masalah sang Awam dapat selalu teratasi atas bantuan dan kehendak Sang Pencipta, Sang Khaliq.

Sang Awam melihat adanya contoh lain mengenai pengerdilan nilai manusia adalah ketergantungan orang atas pekerjaannya sehingga langsung tidak langsung ia tergantung dengan atasannya, menghamba atasan dan bahkan menjadi penjilat atasan. Pertanyaan sang Awam bagi manusia seperti itu Apakah bila tidak ada atasan (perusahaan tempat bekerja tersebut) lalu apa berarti ia juga tidak bisa hidup? lupakah ia bahwa Sang Khaliq jauh berada dan berkuasa diatas Atasan yang ia takuti itu?
Sungguh jiwa yang besar apabila perusahaan/atasan sudah tidak sejalan lagi dengan diri kita tidak dilawan dengan sekedar protes atau demo (kerdil yang frontal namun hanya berani dilakukan beramai2) atau sibuk kasak-kusuk (kerdil sekaligus penakut, sifat yang menjijikan).
Karena dengan hanya protes, demo atau kasak-kusuk yang dilakukan itu adalah suatu bukti yang jelas mengenai pengerdilan diri dimana ia tidak setuju atas keputusan perusahaan, menghujat perusahaan akan tetapi ia tidak berani pindah mencari pekerjaan lain melainkan tetap menerima (mengiba, mengemis) nafkah/gaji dari perusahaan/atasan yang telah dihujatnya.
Sang Awam telah membuktikan dalam pengalaman hidup Sang Awam bahwa apabila ada ketidak sesuaian dengan perusahaan maka Sang Awam selalu berani berani mengutarakan hal tersebut kepada atasan (Direksi sekalipun).  Dan apabila ketidak cocokan dengan management perusahaan telah sering terjadi maka Sang Awam memutuskan untuk segera pindah saja.
Dalam banyak kejadian tentu atasan menyesali kepergian Sang Awam ini, namun menghadapi hal itu lantas tidak menjadikan sang Awam arogan terhadap atasan melainkan justru menjadikannya sebagai rambu untuk mawas diri saat memastikan langkah meninggalkan perusahaan yaitu dengan tetap menjaga nama baik perusahaan yang ditinggalkan karena Sang Awam selalu akui bahwa pada setiap pekerjaan kita telah belajar banyak hal (ilmu, pengalaman, nafkah dll).
Cara legowo mengakhiri ketidak setujuan atas perusahaan dengan meninggalkan perusahaan itu terbukti jauh lebih baik dan lebih mulia.  Kemudian selalu dan selalu terbukti ternyata Sang Khaliq akan meridhoi langkah kita dengan memberikan jalan untuk dapat bekerja / memperoleh nafkah dengan cara lain / diperusahaan lain.

Sebagai mahluk yang Mulia kita harus tetap dapat tegar dan siap (dan IKHLAS) bahwa suatu saat Orang Tua atau  Pekerjaan orang yang dicintai akan tiada (atas kehendak Sang Khaliq). Bila kita terus hanya bergantung kepada mereka lalu bagaimana kita dapat berlatih untuk survive melanjutkan hidup kita? untuk itu sang Awam melihat bahwa sudah menjadi keharusan bagi semua manusia (sebagai mahluk yang Mulia) untuk senantiasa membekali diri agar dapat survive tanpa Orang Tua, tanpa Perusahaan tertentu dan hidup mandiri sambil mencari pekerjaan lain atau bahkan bila diberi kesempatan oleh Sang Khaliq kita justru menciptakan pekerjaan itu sendiri (sebagai Pengusaha). Percayalah kemuliaan manusia adalah dasar bahwa sebenarnya anda sanggup melakukan itu.

Beberapa contoh kecil pemuliaan manusia terhadap benda lain adalah, misal, ketergantungan yang amat sangat atas rokok, Sang Awam melihat bahwa manusia yg sangat tergantung dengan rokok secara tidak sadar mengecilkan dirinya karena menjadi merasa tidak bisa bekerja tanpa rokok, hidupnya kurang nikmat tanpa rokok, bila sedang susah / stress lalu merasa lebih susah bila tidak merokok, bila sudah atau sedang senang merasa akan lebih senang bila sambil merokok, setelah menyantap makanan yang paling nikmat sekalipun selalu "lagi-lagi" ditutup dengan rokok .. sehingga semua rasa menjadi rasa asap ;)).
Sang Awam perlu jelaskan disini bahwa topik rokok itu sangat sensitif, yang sang Awam tujukan atas maksud disini adalah mereka yang benar-benar perokok berat, merokok sampai lebih dari 1 pak sehari. Tulisan ini bukan bagi mereka para perokok ringan (yang saya istilahkan perokok ringan adalah yang merokok sekedarnya, tidak dihisap dalam2, sekedar hisap-sebul, sekadar agar dibilang gaul), namun perlu diingat perokok berat asalnya juga dari perokok ringan.
Begitu mulianyakah rokok sehingga dijadikan dewa utk mengatasi segala masalah si manusia? jawabannya: Ya, bagi yang percaya / melihat rokok sebagai salah satu pemberi nikmat hidupnya (karena ia belum menemukan nikmat yang sejati). Haruskah manusia tergantung dengan rokok yang notabene merupakan lintingan benda kecil buatan manusia itu sendiri?
Ada juga manusia yang menganggap rokok adalah pelengkap hidup, biasanya itu karena ada kekosongan pada dirinya yang tidak dapat dipenuhi, selalu merasa ada yang kurang sehingga ia membutuhkan suatu stimulasi yang dapat terus dan terus memberi rasa nikmat pada dirinya dan kenikmatan itu dia temukan pada rokok, namun dia tidak mengetahui sebenarnya kenikmatan rokok itu hanya semu karena kenikmatan itu segera hilang saat kita hembuskan asapnya karena rokok hanya nikmat saat kita hisap dan langsung terasa asam setelah kita semburkan sehingga kita ingin melakukan hisapan selanjutna.  Itu bukti bahwa rokok hanya memberikan nikmat yang sesaat.
Banyak dibuktikan bahwa tanpa rokok sesungguhnya hidup dapat lebih nikmat!! (baca Awam merasakan Nikmat) dan sang Awam (yang dulu juga perokok) merasakan dan membuktikan bahwa hilangnya ketergantungan atas rokok sungguh suatu anugerah dan merupakan kenikmatan yang sebenarnya jauh lebih nikmat daripada saat masih merokok dan kini sang Awam sampai pada tahap mengasihani mereka yang masih sangat tergantung dengan rokok namun sang Awam juga tidak akan melakukan upaya apapun bagi para perokok berat karena keputusan dan kemampuan berhenti / terus merokok bukan dari orang lain tetapi justru HANYA dari diri masing-masing dan hanya bisa dilakukan bila kita bisa dapat mengendalikan diri. Banyak bukti bahwa mereka yang menyatakan belum mau berhenti merokok umumnya ternyata mereka yang dalam hidupnya susah mengendalikan diri. Maaf sang Awam tidak membahas sisi bahaya rokok dalam hal kesehatan karena sudah banyak ulasan mengenai hal itu dan perokokpun sudah bosan mendengarnya ;-) yang Sang Awam prihatinkan adalah perilaku yang sebagai Manusia tetapi sangat kecanduan/tergantung atas suatu benda buatan manusia itu sendiri.

Dan seperti yang Sang Awam utarakan diatas kemampuan pengedalian diri adalah pewujudan bahwa kita dapat menempatkan diri sebagai manusia yang mulia.

Untuk mengendalikan diri demi kemuliaan ini yang mungkin berat untuk dijalankan (tapi bukanlah tidak bisa), hal itu berat karena demi tujuan tersebut butuh tanggung jawab, konsistensi dan komitmen total selain itu sangat banyak hal yang harus dilakukan.  Namun menjadi ringan apabila memang memotivasi diri bahwa hal itu adalah untuk KEMULIAAN DIRI.

Banyak kemuliaan yang memang perlu dilakukan namun sang Awam melihat hal itu butuh niat yang sangat kuat dan memang berat diterapkan pada keseharian hidup manusia, atau tidak dapat dicapai atas dasar status dan keterbatasan diri (baca tulisan dg huruf italic sebagai komentar sang Awam untuk tiap2 butir tersebut):

  • Menjunjung dan melakukan kebenaran secara total (baca AWAM terhadap KEBENARAN).
    Whuiiihhh.. berat bukan?
  • Menjaga tutur kata dan perilaku agar tidak menyakitkan/menghinakan orang yang tidak bersalah.
    Sulit juga bukan? karena mencibir jauh lebih mudah daripada memuji orang.
  • Berlaku adil.
    Kalau kita mengukur keadilan dari sekedar Benar/Salah atau Baik/Buruk tentu mudah. Tetapi ternyata bila kita ingin benar-benar adil maka kita akan berhadapan dengan parameter yang lebih luas.  Harap baca AWAM terhadap KEADILAN.
  • Menjaga diri dari rasa iri serta dengki.
    Whuih berat jugaaa.. bisa dibilang iri dan dengki ini adalah teman terselubung manusia.  Semakin kita sering bersosialisasi sebenarnya semakin mudah rasa iri dan dengki untuk tersulut justru dari hal yang kecil.  baca AWAM mengatasi IRI.
  • Menahan diri agar tidak mengikuti hawa nafsu.
    Hmmm.. tidak mudah kan? karena hawa nafsu bersebelahan dengan ambisi.  Tinggal masalah penyalurannya apakah positif atau negatif. 
  • Menjauhkan diri dari hal yang tidak perlu.  Karena hal yang tidak perlu umumnya akan mudah mengarahkan kita kepada hal yang mudharat.
    Whuaaaahh.. ini juga berat karena justru hal yang tidak perlu biasanya paling banyak ada disekitar hidup manusia dan juga paling menggoda.
  • Tidak mementingan pribadi/kelompok.
    Whuaaahh... apabila manusia berbicara masalah eksistensi diri maka yang tercuat adalah masalah kepentingan pribadi/kelompok. 
  • Memberikan ketentraman dan meningkatkan kesejahteraan manusia sekitar, dll
    Hmmm... mensejahterakan sekitar sangat menggoda diri untuk menggeser dari perilaku mulia ke perilaku kesombongan, kepamrihan

Lalu sang Awam berpikir (dan berandai-andai) kalau kita ingin mendapat kemuliaan tersebut berarti (mungkin) harus membiasakan diri dari hal yang mudah misal:

  • Selalu membangun keceriaan dan kesenangan sekitarnya
  • Menghindari gossip
  • Memelihara alam (tidak menganiaya hewan atau merusak tanaman)
  • Berbagi dalam ilmu (baca AWAM kepada ILMU)
  • Membantu sesama (dari hal yang paling ringan sekalipun)
  • Mehindari kebohongan
  • Mengurangi kesombongan
  • Saling menasihatkan hal yang baik dll
  • Menjaga kesehatan diri
  • Tidak memakan yang tidak perlu
  • Menjaga kebersihan lingkungan
  • Tidak membunuh binatang sembarangan (namun sejujurnya Sang Awam sering melanggar ini khususnya atas binatang secara langsung berakibat buruk bagi manusia seperti nyamuk, lalat, kecoa) karena mereka diciptakan Sang Khaliq demi keseimbangan alam.
  • Dan masih banyak lagi

Semua itu membuat sang Awam berkeringat... wah ternyata memang sulit menjaga kemuliaan bukan?

Kenyataan bahwa perilaku kita saat ini belum mencapai kemuliaan total yang seperti itu namun janganlah keterbatasan manusia dijadikan dalih untuk SAMA SEKALI TIDAK MENCOBA untuk mencapai kemuliaan tersebut.

Menurut pandangan sang Awam adalah suatu hal yang mulia bila kita senantiasa berupaya mencapai kemuliaan diri sebagai manusia, sebagai mahluk Sang Khaliq.  Dan mungkin kita menjadi sungguh tercela apabila selalu tidak pernah mencoba untuk melakukan hal yang mulia.  Untuk tidak menjadi mulia saja sudah tidak baik.  Apalagi apabila kita justru terperosok menjadi yang tercela.  Naudzubillahi min dzaliq.


Salam,
sang Awam


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help