Abimanyu Panca Kusuma's posts with tag: rejeki
Seringkali saat orang menerima musibah atau masalah lalu berucap pasrah "Ya itu sudah TAKDIR". Selain itu ada juga yang menanggapi suatu kenikmatan (yang lebih dari biasanya) lalu dikatakan bahwa ia sedang dapat BERKAH. Sedangkan saat mendapatkan suatu pendapatan ekstra besar, atau dapat benda yang menyenangkannya, dibilang lagi "ketiban REJEKI"
Atas hal-hal diatas pikiran awam saya menjadi tergugah, apakah harus sepicik itukah mahluk yang bernama manusia ini menerima segala sesuatu yang telah diberikan Sang Khaliq ?
Tanpa kita sadari kenikmatan dunia sungguh sangat amat berlimpah, dari mulai kenikmatan mendapat hasil bumi, nikmat bernafas (adakah orang yang mau dicabut hak nafasnya untuk 5 menit saja?), nikmat melihat, nikmat sehat, nikmat sejahtera, nikmat untuk tertawa, nikmat untuk terharu (rasa haru yang umumnya timbul karena kita melihat sesuatu kekurangan/derita orang lain, haru karena orang tersebut tidak menikmati sesuatu yang biasa dinikmati manusia) dan nikmat lain-lain.
Sesungguhnya semua musibah, masalah dan nikmat itu adalah sudah suatu BERKAH sekaligus REJEKI, nah kini coba kita bayangkan perlukah kita mengkotak2an segala nikmat tersebut? Apakah memang ada sesuatu yang disebut nikmat sedang... nikmat lebih.. nikmat ektra?... atau bahkan nikmat ekstra pedas (just kidding) Apa perlunya kita melakukan klasifikasi spt itu? tentu tidak perlu bukan? karena semua adalah BERKAH atau REJEKI dan semua itu terjadi kepada kita karena itu telah menjadi TAKDIR dari Sang Khaliq, Yang Maha Kuasa, yang menciptakan Alam Semesta ini.
Biasanya kita mengkonotasikan TAKDIR selalu sebagai suatu musibah, padahal TAKDIR adalah suatu berkah bagi kita. TAKDIR selalu disamakan dengan kata COBAAN, padahal COBAAN dan TAKDIR itu adalah sesuatu dari yang terkecil sampai yang terbesar.
Sang Awam mencoba menganalogikan TAKDIR dengan sesuatu yang lain (bukan dari sisi agama, karena Sang Awam sama sekali bukan ahli agama). Contoh kecil, si A, eksekutif perusahaan PT TAJIR ABADI, jam 2 sore mendapatkan kecelakaan saat pulang dari Villanya di puncak, sehingga mobil rusak, tubuh luka, barang2 (misal Notebook, PDA, CD, VCD didalam mobil rusak atau hilang berhamburan). Apakah yang menjadi COBAANnya? Kecelakaan itukah? Segala kehilangan itukah? saya berharap anda tidak menjawab YA utk semua pertanyaan tersebut. Cobalah untuk mengulas seperti ini: Bayangkan bila ia tidak punya Villa berarti dia tidak akan kepuncak bukan? bila ia tidak punya mobil berarti akan naik bus bukan? bila ia memiliki Notebook, PDA berarti dia seseorang yang mempunyai pekerjaan bukan? Bila ia memiliki kaset2, CD, VCD berarti kehidupan ia sudah sampai tahap bisa menikmati audio/video dengan kualitas yang ektra (sementara masih jutaan manusia yang bahkan kaset saja tidak punya). Semua yang ia miliki itu pada awalnya tidak ia miliki bukan? Dan bila ia tidak memiliki itu semua berarti kejadian diatas tidak akan terjadi bukan? Ataukah musibah tsb tetap akan terjadi tetapi dengan korban lainnya? Mana mungkin?.
TAKDIR menentukan jalan hidup seseorang secara tahap demi tahap terus dan terus dan terus... naik maupun turun, dalam kejadian diatas TAKDIR pula yang akhirnya menentukan si A pulang dari villanya jam 2 kurang lalu diperjalanan pada detik kesekian ia bertumburan dengan kendaraan lain.. MUNGKIN bila si A pulang lebih awal beberapa menit saja ceritanya akan lain. Tetapi adakah Manusia yang tahu mengenai apa yang akan dia lakukan? jawaban picik akan berkata "YA, bila orang tersebut mempunyai kekuasaan, maka ia bisa dengan pasti menentukan pada detik keberapa ia ingin apa".. Ahaaaa.. Jangan terlalu mengagungkan kekuasaan karena ternyata kekuasaan Manusia tetap ada batasnya dan bahkan BANYAK BATASnya.
Kita sering mendengar Manusia berencana dan Tuhan yang menentukan, dan Sang Awam mempercayai bahwa itu BETUL !! Coba simak cerita itu Si A dengan posisi/status sosial dia memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan apa yang INGIN dia lakukan. dia mungkin ingin pulang jam 12 siang, tetapi (misal) ternyata pintu gerbang Villa masih dikunci (demi keamanan) oleh sang tukang kebun yang entah kemana saat itu. Atau ada kendaraan rongsok yang mogok/menghalangi didepan gerbang, hal itu akan menjadikan orang yang (dianggap) berkuasa tadi tetap tergantung dengan manusia lain bukan? Ia bahkan tergantung dengan Manusia yang secara struktur majikan-bawahan ada dibawah kekuasaannya !! Contoh diatas adalah hal simple yang meyakinkan Sang Awam bahwa kekuasaan manusia ternyata sama sekali "tidak berlaku atas waktu" !!! dan itu berarti si A tunduk atas TAKDIR yang menentukan ia pulang jam sekian dan akhirnya kemudian mengalami bencana tersebut.
Nah coba kita tarik lebih panjang lagi perjalanan TAKDIR si A ke masa lampau. Dari mulai zaman ia masih penangguran dahulu kala. Bila ia terlambat 1 hari saja dalam melamar ke PT TAJIR ABADI, mungkin ia tidak akan bekerja disana dan itu berarti yang menduduki posisi eksekutif mungkin adalah orang lain (Si B) dan si A bekerja di perusahaan PT ADU EDAN dimana si A mungkin belum tentu meraih posisi yang tinggi karena disana banyak orang2 dengan TAKDIRnya masing-masing. Namun apakah itu berarti kelak si B (yang di PT TAJIR ABADI) justru yang akan mengalami kecelakaan dipuncak tersebut? belum tentu !! karena sbg eksekutif si B misal memilih untuk membeli Villa di suatu pulau dan sudah tentu jalan cerita Takdirnya akan menjadi lain (misal si B dalam perjalanan hidupnya mungkin sempat mendapat kenikmatan, kehilangan mobil, mengalami kerugian besar, masalah fatal, kesenangan, dan lain lain). Sebagaimana kehidupan terus berlanjut maka cerita takdir diatas bukanlah cerita akhir si A / si B.
Dan mampukah anda bayangkan bahwa musibah yang dialami oleh si A adalah tetap suatu yang baik baginya dan patut untuk tetap disyukuri karena Sang Khaliq telah merencanakan hal lain bagi si A. Dalam hal ini Sang Awam memberikan hints atas pertanyaan tsb bahwa bencana yang dialami si A tersebut MUNGKIN JUSTRU PERLU DISYUKURI. Mengapa? Nah, jawabannya bisa anda temukan apabila anda sudah dapat mengambil intisari arti Takdir yang telah dijelaskan diatas.
So, semua yang kita alami adalah suatu TAKDIR dari NYA. Untuk itulah sepatutnya kita selalu bersyukur atas segala yang terjadi kepada kita, tanpa perlu lagi kita kotak2an mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang musibah, mana kenikmatan biasa, mana berkah, mana rejeki, dll. Yakin lah bahwa semua TAKDIR yang anda alami adalah baik bagi anda. Dan jangan sekali-kali anda iri lalu menganggap bahwa takdir orang lain lebih baik daripada yang anda terima karena anda tidak tahu secara mendetil apa efek selanjutnya dari Takdir yang dialami orang tersebut.
Janganlah kita dengan segala keterbatasan yang ada, dengan segala kekecilan kita sebagai Manusia menolak TAKDIR yang bersifat musibah, menuduh Sang Khaliq bersifat tidak adil dengan musibah yang diberikan, karena semua itu merupakan bagian dari jalan hidup kita, dan saat kita pada posisi yang lebih baik dari yang dulu maka segala musibah masa lampau adalah kenangan manis. Dan saat kita pada posisi yang lebih buruk dari masa lalu seyogyanya kita syukuri bahwa setidaknya dalam hidup kita pernah mengalami keindahan masa lalu, karena begitu banyak orang lain yang mungkin tidak pernah mengalami hal itu selama hidupnya. Nikmati Takdirmu dan syukuri Takdirmu karena itu bagian dari keadilan Sang Khaliq yang menciptakanmu.
Salam, Sang Awam
| |