Abimanyu Panca Kusuma's posts with tag: thought

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag thought
Blog EntryAWAM menuju KEMULIAANFeb 8, '06 9:11 AM
for everyone

Sering kali kita mendengar/dinyatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mulia. Namun tanggapan yang sering terjadi atas predikat tersebut adalah ternyata sebatas sebagai kepuasan manusia atas predikat tersebut atau bahkan ada juga yang tanpa disadari memanfaatkan predikat kemuliaan tersebut untuk kesewenangan.

Secara mendasar pernyataan mulia (bila disampaikan antar manusia) adalah suatu pengakuan absolut bahwa Yang Mulia tersebut lebih baik daripada kita. Sehingga menjadi hal yang umum bahwa sesuatu yang dianggap mulia akan dijunjung setinggi-tingginya. Dan suatu yang lumrah bila yang mendapat predikat mulia akan menjaga kemuliaannya sebagai suatu strata pengakuan total dari lingkungan sekitar. Penerima atau penyandang predikat Yang Mulia akhirnya akan berupaya menjaga kemuliaan melalui segala cara dari yang wajar sampai yang tidak wajar.

Tetapi ingatkah kita (sebagai manusia) bahwa kita perlu menjaga kemuliaan tersebut ? Bagi Sang Awam cara wajar menjaga kemuliaan itu adalah dengan menjaga dan memelihara alam sekitar (tempat kita hidup), lalu berhubungan baik dengan sesama mahluk hidup (baik manusia maupun hewan dan tumbuhan). Salah satu pewujudan atas pemuliaan diri dalam mengendalikan alam sekitar dapat dimulai dengan pengendalian diri manusia itu sendiri yaitu Pengendalian diri atas akal dan nurani.

Dan kita perlu sadari pernyataan level manusia adalah mahluk yang Mulia bukanlah oleh diberikan oleh mahluk lain tetapi justru pernyataan langsung dari Sang Pencipta sendiri. Namun demikian tentu pernyataan tersebut bukanlah berarti manusia lebih mulia daripada Sang Penciptanya, melainkan (bagi yang mengerti) hal itu merupakan suatu perintah dariNYA agar manusia bertanggungjawab menjaga martabat kemuliaan yang telah dianugerahkan olehNYA.

Sebagai sesuatu yang mulia berarti sewajarnya kita tidak memuliakan benda lain karena sebenarnya Yang Lebih Mulia diatas manusia hanyalah satu yaitu Sang Khaliq, Sang Pencipta. Namun kenyataannya banyak sekali manusia (sadar ataupun tidak sadar) dengan begitu bodohnya secara spesifik memuliakan benda lain (bahkan benda yang dibuat oleh manusia lain) dan dengan sendirinya manusia yang memuliakan benda tersebut telah mengerdilkan arti diri dia sendiri sebagai mahluk yang (tadinya) mulia.

Inti dari semua pernyataan diatas, sang Awam ingin menjelaskan, bahwa sesuai Pemeo: Mendapat memang lebih mudah daripada Mempertahankan, maka hal itu berlaku bagi manusia dimana mendapatkan martabat Mulia saja tidak cukup apabila kita tidak mempertahankannya Kemuliaan kita sendiri dan kalau kita mau jujur pada diri sendiri maka pasti jawabannya adalah "Ternyata SULIT untuk menjaga Kemuliaan yang benar"

Contoh umum pengerdilan manusia atas dirinya adalah dengan menggantungkan hidup atas manusia lain yang dapat dijelaskan seperti berikut:
Sudah jelas bahwa manusia diciptakan Sang Khaliq secara sendiri2 saat lahir, dan bukankah manusia berkembang secara sendiri2 sejak lahir? Namun yang terjadi banyak sekali anggapan bahwa manusia telah diciptakan oleh orang tuanya !! kekerdilan pemikiran tersebut harus dikoreksi bahwa kita bukanlah "ada karena diinginkan orangtua kita", melainkan "kita ada karena dikehendaki olehNYA, Sang Pencipta", dan orang tua sebagai insan yang melahirkan kita tetapi bukan menciptakan kita!! (baca AWAM terhadap CIPTAAN) Dan pendapat bodoh tersebut (bahwa manusia diciptakan oleh orang tuanya) dalam perjalanan hidup manusia tersebut sadar maupun tidak sadar membentuk suatu ketergantungan mutlak kepada orangtuanya sehingga manusia tersebut tidak dapat berkembang sebagai insan yang utuh dan mandiri (melainkan sekedar sebagai insan yang merupakan cerminan atau patokan dari orang tuanya).

Harap ungkapan diatas jangan anda salah artikan bahwa Sang Awam tidak menghormati orang tua. Sang Awam sangat menghormati orangtua yang membimbingnya sedari kecil. Sang Awam memiliki kewajiban dan kesadaran penuh menghormati orang tua adalah atas jasa dan pengorbanan mereka dalam membesarkan dan membina kita. Salah satu bentuk penghormatan sang Awam terhadap orangtuanya adalah dengan menjadi insan yang mandiri dan berupaya secara total menghindari ketergantungan kepada orang tua dan tidak mengeluh / mengadu kepada orang tua saat sang Awam terlibat masalah. Orang tua sudah cukup membimbing sang Awam sedari kecil dan setelah sang Awam cukup umur maka selayaknya bagai burung ia terbang dengan harapan orang tua bisa menikmati masa tuanya hanya dengan cukup mendengar yang indah2 saja dari sang anak dan tidak perlu mengetahui problema sang Awam, tidak perlu membantu dan melindungi sang Awam (dengan keyakinan bahwa Sang Khaliqlah yang senantiasa dapat melindungi dan membantu sang Awam). Karena kenyataan telah membuktikan selama ini semua masalah sang Awam dapat selalu teratasi atas bantuan dan kehendak Sang Pencipta, Sang Khaliq.

Sang Awam melihat adanya contoh lain mengenai pengerdilan nilai manusia adalah ketergantungan orang atas pekerjaannya sehingga langsung tidak langsung ia tergantung dengan atasannya, menghamba atasan dan bahkan menjadi penjilat atasan. Pertanyaan sang Awam bagi manusia seperti itu Apakah bila tidak ada atasan (perusahaan tempat bekerja tersebut) lalu apa berarti ia juga tidak bisa hidup? lupakah ia bahwa Sang Khaliq jauh berada dan berkuasa diatas Atasan yang ia takuti itu?
Sungguh jiwa yang besar apabila perusahaan/atasan sudah tidak sejalan lagi dengan diri kita tidak dilawan dengan sekedar protes atau demo (kerdil yang frontal namun hanya berani dilakukan beramai2) atau sibuk kasak-kusuk (kerdil sekaligus penakut, sifat yang menjijikan).
Karena dengan hanya protes, demo atau kasak-kusuk yang dilakukan itu adalah suatu bukti yang jelas mengenai pengerdilan diri dimana ia tidak setuju atas keputusan perusahaan, menghujat perusahaan akan tetapi ia tidak berani pindah mencari pekerjaan lain melainkan tetap menerima (mengiba, mengemis) nafkah/gaji dari perusahaan/atasan yang telah dihujatnya.
Sang Awam telah membuktikan dalam pengalaman hidup Sang Awam bahwa apabila ada ketidak sesuaian dengan perusahaan maka Sang Awam selalu berani berani mengutarakan hal tersebut kepada atasan (Direksi sekalipun).  Dan apabila ketidak cocokan dengan management perusahaan telah sering terjadi maka Sang Awam memutuskan untuk segera pindah saja.
Dalam banyak kejadian tentu atasan menyesali kepergian Sang Awam ini, namun menghadapi hal itu lantas tidak menjadikan sang Awam arogan terhadap atasan melainkan justru menjadikannya sebagai rambu untuk mawas diri saat memastikan langkah meninggalkan perusahaan yaitu dengan tetap menjaga nama baik perusahaan yang ditinggalkan karena Sang Awam selalu akui bahwa pada setiap pekerjaan kita telah belajar banyak hal (ilmu, pengalaman, nafkah dll).
Cara legowo mengakhiri ketidak setujuan atas perusahaan dengan meninggalkan perusahaan itu terbukti jauh lebih baik dan lebih mulia.  Kemudian selalu dan selalu terbukti ternyata Sang Khaliq akan meridhoi langkah kita dengan memberikan jalan untuk dapat bekerja / memperoleh nafkah dengan cara lain / diperusahaan lain.

Sebagai mahluk yang Mulia kita harus tetap dapat tegar dan siap (dan IKHLAS) bahwa suatu saat Orang Tua atau  Pekerjaan orang yang dicintai akan tiada (atas kehendak Sang Khaliq). Bila kita terus hanya bergantung kepada mereka lalu bagaimana kita dapat berlatih untuk survive melanjutkan hidup kita? untuk itu sang Awam melihat bahwa sudah menjadi keharusan bagi semua manusia (sebagai mahluk yang Mulia) untuk senantiasa membekali diri agar dapat survive tanpa Orang Tua, tanpa Perusahaan tertentu dan hidup mandiri sambil mencari pekerjaan lain atau bahkan bila diberi kesempatan oleh Sang Khaliq kita justru menciptakan pekerjaan itu sendiri (sebagai Pengusaha). Percayalah kemuliaan manusia adalah dasar bahwa sebenarnya anda sanggup melakukan itu.

Beberapa contoh kecil pemuliaan manusia terhadap benda lain adalah, misal, ketergantungan yang amat sangat atas rokok, Sang Awam melihat bahwa manusia yg sangat tergantung dengan rokok secara tidak sadar mengecilkan dirinya karena menjadi merasa tidak bisa bekerja tanpa rokok, hidupnya kurang nikmat tanpa rokok, bila sedang susah / stress lalu merasa lebih susah bila tidak merokok, bila sudah atau sedang senang merasa akan lebih senang bila sambil merokok, setelah menyantap makanan yang paling nikmat sekalipun selalu "lagi-lagi" ditutup dengan rokok .. sehingga semua rasa menjadi rasa asap ;)).
Sang Awam perlu jelaskan disini bahwa topik rokok itu sangat sensitif, yang sang Awam tujukan atas maksud disini adalah mereka yang benar-benar perokok berat, merokok sampai lebih dari 1 pak sehari. Tulisan ini bukan bagi mereka para perokok ringan (yang saya istilahkan perokok ringan adalah yang merokok sekedarnya, tidak dihisap dalam2, sekedar hisap-sebul, sekadar agar dibilang gaul), namun perlu diingat perokok berat asalnya juga dari perokok ringan.
Begitu mulianyakah rokok sehingga dijadikan dewa utk mengatasi segala masalah si manusia? jawabannya: Ya, bagi yang percaya / melihat rokok sebagai salah satu pemberi nikmat hidupnya (karena ia belum menemukan nikmat yang sejati). Haruskah manusia tergantung dengan rokok yang notabene merupakan lintingan benda kecil buatan manusia itu sendiri?
Ada juga manusia yang menganggap rokok adalah pelengkap hidup, biasanya itu karena ada kekosongan pada dirinya yang tidak dapat dipenuhi, selalu merasa ada yang kurang sehingga ia membutuhkan suatu stimulasi yang dapat terus dan terus memberi rasa nikmat pada dirinya dan kenikmatan itu dia temukan pada rokok, namun dia tidak mengetahui sebenarnya kenikmatan rokok itu hanya semu karena kenikmatan itu segera hilang saat kita hembuskan asapnya karena rokok hanya nikmat saat kita hisap dan langsung terasa asam setelah kita semburkan sehingga kita ingin melakukan hisapan selanjutna.  Itu bukti bahwa rokok hanya memberikan nikmat yang sesaat.
Banyak dibuktikan bahwa tanpa rokok sesungguhnya hidup dapat lebih nikmat!! (baca Awam merasakan Nikmat) dan sang Awam (yang dulu juga perokok) merasakan dan membuktikan bahwa hilangnya ketergantungan atas rokok sungguh suatu anugerah dan merupakan kenikmatan yang sebenarnya jauh lebih nikmat daripada saat masih merokok dan kini sang Awam sampai pada tahap mengasihani mereka yang masih sangat tergantung dengan rokok namun sang Awam juga tidak akan melakukan upaya apapun bagi para perokok berat karena keputusan dan kemampuan berhenti / terus merokok bukan dari orang lain tetapi justru HANYA dari diri masing-masing dan hanya bisa dilakukan bila kita bisa dapat mengendalikan diri. Banyak bukti bahwa mereka yang menyatakan belum mau berhenti merokok umumnya ternyata mereka yang dalam hidupnya susah mengendalikan diri. Maaf sang Awam tidak membahas sisi bahaya rokok dalam hal kesehatan karena sudah banyak ulasan mengenai hal itu dan perokokpun sudah bosan mendengarnya ;-) yang Sang Awam prihatinkan adalah perilaku yang sebagai Manusia tetapi sangat kecanduan/tergantung atas suatu benda buatan manusia itu sendiri.

Dan seperti yang Sang Awam utarakan diatas kemampuan pengedalian diri adalah pewujudan bahwa kita dapat menempatkan diri sebagai manusia yang mulia.

Untuk mengendalikan diri demi kemuliaan ini yang mungkin berat untuk dijalankan (tapi bukanlah tidak bisa), hal itu berat karena demi tujuan tersebut butuh tanggung jawab, konsistensi dan komitmen total selain itu sangat banyak hal yang harus dilakukan.  Namun menjadi ringan apabila memang memotivasi diri bahwa hal itu adalah untuk KEMULIAAN DIRI.

Banyak kemuliaan yang memang perlu dilakukan namun sang Awam melihat hal itu butuh niat yang sangat kuat dan memang berat diterapkan pada keseharian hidup manusia, atau tidak dapat dicapai atas dasar status dan keterbatasan diri (baca tulisan dg huruf italic sebagai komentar sang Awam untuk tiap2 butir tersebut):

  • Menjunjung dan melakukan kebenaran secara total (baca AWAM terhadap KEBENARAN).
    Whuiiihhh.. berat bukan?
  • Menjaga tutur kata dan perilaku agar tidak menyakitkan/menghinakan orang yang tidak bersalah.
    Sulit juga bukan? karena mencibir jauh lebih mudah daripada memuji orang.
  • Berlaku adil.
    Kalau kita mengukur keadilan dari sekedar Benar/Salah atau Baik/Buruk tentu mudah. Tetapi ternyata bila kita ingin benar-benar adil maka kita akan berhadapan dengan parameter yang lebih luas.  Harap baca AWAM terhadap KEADILAN.
  • Menjaga diri dari rasa iri serta dengki.
    Whuih berat jugaaa.. bisa dibilang iri dan dengki ini adalah teman terselubung manusia.  Semakin kita sering bersosialisasi sebenarnya semakin mudah rasa iri dan dengki untuk tersulut justru dari hal yang kecil.  baca AWAM mengatasi IRI.
  • Menahan diri agar tidak mengikuti hawa nafsu.
    Hmmm.. tidak mudah kan? karena hawa nafsu bersebelahan dengan ambisi.  Tinggal masalah penyalurannya apakah positif atau negatif. 
  • Menjauhkan diri dari hal yang tidak perlu.  Karena hal yang tidak perlu umumnya akan mudah mengarahkan kita kepada hal yang mudharat.
    Whuaaaahh.. ini juga berat karena justru hal yang tidak perlu biasanya paling banyak ada disekitar hidup manusia dan juga paling menggoda.
  • Tidak mementingan pribadi/kelompok.
    Whuaaahh... apabila manusia berbicara masalah eksistensi diri maka yang tercuat adalah masalah kepentingan pribadi/kelompok. 
  • Memberikan ketentraman dan meningkatkan kesejahteraan manusia sekitar, dll
    Hmmm... mensejahterakan sekitar sangat menggoda diri untuk menggeser dari perilaku mulia ke perilaku kesombongan, kepamrihan

Lalu sang Awam berpikir (dan berandai-andai) kalau kita ingin mendapat kemuliaan tersebut berarti (mungkin) harus membiasakan diri dari hal yang mudah misal:

  • Selalu membangun keceriaan dan kesenangan sekitarnya
  • Menghindari gossip
  • Memelihara alam (tidak menganiaya hewan atau merusak tanaman)
  • Berbagi dalam ilmu (baca AWAM kepada ILMU)
  • Membantu sesama (dari hal yang paling ringan sekalipun)
  • Mehindari kebohongan
  • Mengurangi kesombongan
  • Saling menasihatkan hal yang baik dll
  • Menjaga kesehatan diri
  • Tidak memakan yang tidak perlu
  • Menjaga kebersihan lingkungan
  • Tidak membunuh binatang sembarangan (namun sejujurnya Sang Awam sering melanggar ini khususnya atas binatang secara langsung berakibat buruk bagi manusia seperti nyamuk, lalat, kecoa) karena mereka diciptakan Sang Khaliq demi keseimbangan alam.
  • Dan masih banyak lagi

Semua itu membuat sang Awam berkeringat... wah ternyata memang sulit menjaga kemuliaan bukan?

Kenyataan bahwa perilaku kita saat ini belum mencapai kemuliaan total yang seperti itu namun janganlah keterbatasan manusia dijadikan dalih untuk SAMA SEKALI TIDAK MENCOBA untuk mencapai kemuliaan tersebut.

Menurut pandangan sang Awam adalah suatu hal yang mulia bila kita senantiasa berupaya mencapai kemuliaan diri sebagai manusia, sebagai mahluk Sang Khaliq.  Dan mungkin kita menjadi sungguh tercela apabila selalu tidak pernah mencoba untuk melakukan hal yang mulia.  Untuk tidak menjadi mulia saja sudah tidak baik.  Apalagi apabila kita justru terperosok menjadi yang tercela.  Naudzubillahi min dzaliq.


Salam,
sang Awam


Blog EntryAWAM memahami TAKDIRJan 18, '06 4:59 AM
for everyone

Seringkali saat orang menerima musibah atau masalah lalu berucap pasrah "Ya itu sudah TAKDIR".
Selain itu ada juga yang menanggapi suatu kenikmatan (yang lebih dari biasanya) lalu dikatakan bahwa ia sedang dapat BERKAH.
Sedangkan saat mendapatkan suatu pendapatan ekstra besar, atau dapat benda yang menyenangkannya, dibilang lagi "ketiban REJEKI"

Atas hal-hal diatas pikiran awam saya menjadi tergugah, apakah harus sepicik itukah mahluk yang bernama manusia ini menerima segala sesuatu yang telah diberikan Sang Khaliq ?

Tanpa kita sadari kenikmatan dunia sungguh sangat amat berlimpah, dari mulai kenikmatan mendapat hasil bumi, nikmat bernafas (adakah orang yang mau dicabut hak nafasnya untuk 5 menit saja?), nikmat melihat, nikmat sehat, nikmat sejahtera, nikmat untuk tertawa, nikmat untuk terharu (rasa haru yang umumnya timbul karena kita melihat sesuatu kekurangan/derita orang lain, haru karena orang tersebut tidak menikmati sesuatu yang biasa dinikmati manusia) dan nikmat lain-lain.

Sesungguhnya semua musibah, masalah dan nikmat itu adalah sudah suatu BERKAH sekaligus REJEKI, nah kini coba kita bayangkan perlukah kita mengkotak2an segala nikmat tersebut? Apakah memang ada sesuatu yang disebut nikmat sedang... nikmat lebih.. nikmat ektra?... atau bahkan nikmat ekstra pedas (just kidding) Apa perlunya kita melakukan klasifikasi spt itu? tentu tidak perlu bukan? karena semua adalah BERKAH atau REJEKI dan semua itu terjadi kepada kita karena itu telah menjadi TAKDIR dari Sang Khaliq, Yang Maha Kuasa, yang menciptakan Alam Semesta ini.

Biasanya kita mengkonotasikan TAKDIR selalu sebagai suatu musibah, padahal TAKDIR adalah suatu berkah bagi kita. TAKDIR selalu disamakan dengan kata COBAAN, padahal COBAAN dan TAKDIR itu adalah sesuatu dari yang terkecil sampai yang terbesar.

Sang Awam mencoba menganalogikan TAKDIR dengan sesuatu yang lain (bukan dari sisi agama, karena Sang Awam sama sekali bukan ahli agama).
Contoh kecil, si A, eksekutif perusahaan PT TAJIR ABADI, jam 2 sore mendapatkan kecelakaan saat pulang dari Villanya di puncak, sehingga mobil rusak, tubuh luka, barang2 (misal Notebook, PDA, CD, VCD didalam mobil rusak atau hilang berhamburan). Apakah yang menjadi COBAANnya? Kecelakaan itukah? Segala kehilangan itukah? saya berharap anda tidak menjawab YA utk semua pertanyaan tersebut.
Cobalah untuk mengulas seperti ini: Bayangkan bila ia tidak punya Villa berarti dia tidak akan kepuncak bukan? bila ia tidak punya mobil berarti akan naik bus bukan? bila ia memiliki Notebook, PDA berarti dia seseorang yang mempunyai pekerjaan bukan? Bila ia memiliki kaset2, CD, VCD berarti kehidupan ia sudah sampai tahap bisa menikmati audio/video dengan kualitas yang ektra (sementara masih jutaan manusia yang bahkan kaset saja tidak punya). Semua yang ia miliki itu pada awalnya tidak ia miliki bukan? Dan bila ia tidak memiliki itu semua berarti kejadian diatas tidak akan terjadi bukan? Ataukah musibah tsb tetap akan terjadi tetapi dengan korban lainnya? Mana mungkin?.

TAKDIR menentukan jalan hidup seseorang secara tahap demi tahap terus dan terus dan terus... naik maupun turun, dalam kejadian diatas TAKDIR pula yang akhirnya menentukan si A pulang dari villanya jam 2 kurang lalu diperjalanan pada detik kesekian ia bertumburan dengan kendaraan lain.. MUNGKIN bila si A pulang lebih awal beberapa menit saja ceritanya akan lain. Tetapi adakah Manusia yang tahu mengenai apa yang akan dia lakukan? jawaban picik akan berkata "YA, bila orang tersebut mempunyai kekuasaan, maka ia bisa dengan pasti menentukan pada detik keberapa ia ingin apa".. Ahaaaa.. Jangan terlalu mengagungkan kekuasaan karena ternyata kekuasaan Manusia tetap ada batasnya dan bahkan BANYAK BATASnya.

Kita sering mendengar Manusia berencana dan Tuhan yang menentukan, dan Sang Awam mempercayai bahwa itu BETUL !! Coba simak cerita itu Si A dengan posisi/status sosial dia memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan apa yang INGIN dia lakukan. dia mungkin ingin pulang jam 12 siang, tetapi (misal) ternyata pintu gerbang Villa masih dikunci (demi keamanan) oleh sang tukang kebun yang entah kemana saat itu. Atau ada kendaraan rongsok yang mogok/menghalangi didepan gerbang, hal itu akan menjadikan orang yang (dianggap) berkuasa tadi tetap tergantung dengan manusia lain bukan? Ia bahkan tergantung dengan Manusia yang secara struktur majikan-bawahan ada dibawah kekuasaannya !! Contoh diatas adalah hal simple yang meyakinkan Sang Awam bahwa kekuasaan manusia ternyata sama sekali "tidak berlaku atas waktu" !!! dan itu berarti si A tunduk atas TAKDIR yang menentukan ia pulang jam sekian dan akhirnya kemudian mengalami bencana tersebut.

Nah coba kita tarik lebih panjang lagi perjalanan TAKDIR si A ke masa lampau. Dari mulai zaman ia masih penangguran dahulu kala. Bila ia terlambat 1 hari saja dalam melamar ke PT TAJIR ABADI, mungkin ia tidak akan bekerja disana dan itu berarti yang menduduki posisi eksekutif mungkin adalah orang lain (Si B) dan si A bekerja di perusahaan PT ADU EDAN dimana si A mungkin belum tentu meraih posisi yang tinggi karena disana banyak orang2 dengan TAKDIRnya masing-masing. Namun apakah itu berarti kelak si B (yang di PT TAJIR ABADI) justru yang akan mengalami kecelakaan dipuncak tersebut? belum tentu !! karena sbg eksekutif si B misal memilih untuk membeli Villa di suatu pulau dan sudah tentu jalan cerita Takdirnya akan menjadi lain (misal si B dalam perjalanan hidupnya mungkin sempat mendapat kenikmatan, kehilangan mobil, mengalami kerugian besar, masalah fatal, kesenangan, dan lain lain).

Sebagaimana kehidupan terus berlanjut maka cerita takdir diatas bukanlah cerita akhir si A / si B.

Dan mampukah anda bayangkan bahwa musibah yang dialami oleh si A adalah tetap suatu yang baik baginya dan patut untuk tetap disyukuri karena Sang Khaliq telah merencanakan hal lain bagi si A. Dalam hal ini Sang Awam memberikan hints atas pertanyaan tsb bahwa bencana yang dialami si A tersebut MUNGKIN JUSTRU PERLU DISYUKURI. Mengapa? Nah, jawabannya bisa anda temukan apabila anda sudah dapat mengambil intisari arti Takdir yang telah dijelaskan diatas.

So, semua yang kita alami adalah suatu TAKDIR dari NYA. Untuk itulah sepatutnya kita selalu bersyukur atas segala yang terjadi kepada kita, tanpa perlu lagi kita kotak2an mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang musibah, mana kenikmatan biasa, mana berkah, mana rejeki, dll. Yakin lah bahwa semua TAKDIR yang anda alami adalah baik bagi anda. Dan jangan sekali-kali anda iri lalu menganggap bahwa takdir orang lain lebih baik daripada yang anda terima karena anda tidak tahu secara mendetil apa efek selanjutnya dari Takdir yang dialami orang tersebut.

Janganlah kita dengan segala keterbatasan yang ada, dengan segala kekecilan kita sebagai Manusia menolak TAKDIR yang bersifat musibah, menuduh Sang Khaliq bersifat tidak adil dengan musibah yang diberikan, karena semua itu merupakan bagian dari jalan hidup kita, dan saat kita pada posisi yang lebih baik dari yang dulu maka segala musibah masa lampau adalah kenangan manis. Dan saat kita pada posisi yang lebih buruk dari masa lalu seyogyanya kita syukuri bahwa setidaknya dalam hidup kita pernah mengalami keindahan masa lalu, karena begitu banyak orang lain yang mungkin tidak pernah mengalami hal itu selama hidupnya. Nikmati Takdirmu dan syukuri Takdirmu karena itu bagian dari keadilan Sang Khaliq yang menciptakanmu.


Salam,
Sang Awam


Blog EntryAWAM mengartikan IKHLASJan 17, '06 9:35 AM
for everyone

Suatu hari seorang rekan bertanya kepada Sang Awam, "Bagaimana caranya agar bisa ikhlas?" hmm... pertanyaan yang menarik untuk dikupas lalu sayapun rela membagi waktu menggali bagaimana agar kita bisa iklas, disini Sang Awam ingin kembali mengulas soal ikhlas itu. Ikhlas intinya adalah suatu perpaduan antara kerelaan dan tanggung jawab.

"Rela" yang Sang Awam maksudkan disini adalah kerelaan untuk melepaskan SESUATU dari kita dimana sesuatu itu bisa merupakan Benda, Masa Indah, Posisi, Relasi Bisnis, Klien dll. Kerelaan tersebut akan dengan sendirinya pasti timbul apabila disertai keyakinan bahwa:
1. Mungkin hal itu terjadi karena waktu bagi kita untuk dapat menikmati dan memanfaatkan SESUATU tersebut telah usai (anggap saja saat memiliki SESUATU itu kita sedang menyewa dari Sang Khaliq) dan anggap bahwa kini SESUATU itu giliran dipindahkan kepada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan.
2. Sungguh suatu pemikiran yang legowo bila kita bisa berpendapat bahwa SESUATU tersebut dipindahkan ke orang lain karena mungkin Sang Khaliq melihat bahwa orang tersebut dapat lebih memanfaatkan SESUATU itu dibandingkan masa-masa disaat SESUATU tersebut ada pada kita. Dan tentu dalam keadaan ini kita sewajarkan cukup melakukan instrospeksi diri untuk mengulas kembali apa saja yang telah kita lakukan terhadap SESUATU itu (saat ada pada kita), setelah evaluasi tsb lalu intisarikan, perilaku yang baik terhadap SESUATU tersebut sebaiknya kita ingat (simpan baik-baik) sedangkan perilaku kita yang buruk atas SESUATU itu sebaiknya kita cari tahu bagaimana seharusnya kita memperlakukan SESUATU tersebut. Mengapa Sang Awam menganggap bahwa evaluasi tersebut diperlukan?. Tujuannya adalah apabila suatu saat SESUATU itu "kembali ada pada kita" maka akan kita akan pergunakan/perlakukan dengan lebih baik lagi daripada kesempatan yang sebelumnya (yang telah lalu).
3. Mungkin saya selepas dari kita lalu SESUATU tersebut malah jatuh ke orang yang (menurut kita) kurang baik dibandingkan kita. Bila hal itu yang terjadi sebaiknya kita berharap dan berdoa semoga SESUATU itu bisa menjadi jalan agar orang tersebut menjadi insan yang lebih baik. Doa kita tersebut akan menjadi sesuatu yang indah yg pernah muncul dari diri kita. Dan doa tersebut jauh lebih baik daripada kita hanya memaki atau mencibir orang tersebut, yang mungkin terkesan bahwa kita menjadi iri karena SESUATU tersebut telah lepas dari kita atau menjadi milik orang lain?
4. Dan dapat juga kita menganggap bahwa SESUATU itu telah dilepas dari kita karena Sang Khaliq akan memberi atau menggantinya dengan SESUATU yang lebih baik lagi. Sang Awam yakin bahwa tidak ada Manusia yang tidak ingin menerima SESUATU yang lebih baik, karena hal itu adalah merupakan pemikiran yang wajar-wajar saja dan belum merupakan suatu yang rakus. Tetapi bila kita ingin tetap memiliki SESUATU tersebut dan pada saat yang bersamaan kita ingin pula menerima SESUATU yang lebih baik lagi, maka itulah sesungguhnya mendekatkan diri kita pada ketamakan. Memiliki Segala SESUATU yang baik belum tentu suatu hal yang baik karena kita tidak pernah tahu bahwa dengan memiliki semuanya maka mungkin saja semua KUMPULAN DARI RAGAM SESUATU itu bukan lagi suatu yang indah untuk dinikmati melainkan menjadikan beban atau justru merusak atau suatu yang bersifat mudharat bagi hidup kita. Lebih dari itu ketamakan tersebut akan membangkitkan rasa iri atau dendam orang lain atas apa yang kita miliki dan tentu sedikit banyak bisa menjadi suatu yang buruk bagi kita. Menurut Sang Awam senikmat-nikmatnya hidup adalah bila kita bisa terhindar dan terlindungi dari rasa iri, dengki dan dendam orang sekitar kita.


Inti dalah menerima SESUATU adalah "bagaimana atau seberapa siap diri kita untuk dapat menerima SESUATU tersebut".
1. Siap untuk menanggung segala resiko buruk yang mungkin timbul karena SESUATU tersebut.
2. Siap untuk memanfaatkan SESUATU tersebut demi kebaikan diri maupun kebaikan sekitarnya.
3. Melakukan upaya mengetahui batasan dari SESUATU tersebut sehingga kita dapat memeliharanya dengan baik.
4. Mengupas diri dan mengolah kemampuan, kelebihan, kekurangan, kelemahan dari SESUATU tersebut.
5. Melakukan perencanaan yang matang mengenai apa yang akan dilakukan terhadap SESUATU itu.
6. Siap menerima apabila SESUATU itu tidak lagi utuh ditangan kita atau lepas dari kita, Siap dengan keRELAan penuh.
7. Dan yang lebih legowo adalah siap untuk MENOLAK menerima SESUATU tersebut apabila menurut kita, secara moral atau secara hak kita tidak berhak menerima SESUATU tersebut. Dan Sang Awam akui, bahwa sikap SIAP MENOLAK tsb (karena tidak berhak) sekalipun baik tetapi sulit untuk dilakukan kita, manusia.


Bila kita telah memiliki keRELAan dan kesiapan tersebut maka kita akan selalu dapat IKHLAS menerima SEGALA SESUATU. Dan memang perlu kita akui tidak mudah untuk melakukan itu semua, maka dari itu IKHLAS adalah suatu ILMU yang perlu dipelajari, diasah, diolah untuk dapat semakin baik dan semakin baik lagi.

"Lalu adakah cara mudah untuk melakukan keIKHLASan?" itu pertanyaan lain dari rekan Sang Awam yang saya jawab bahwa cara mudah MEMBANGUN RASA IKHLAS adalah dengan MEMBUANG RASA MEMILIKI !! Perlu disadari bahwa pada dasarnya saat kita lahir tidak memiliki suatu apapun dan akan mati tanpa membawa suatu apapun maka dari itu segala apa yang ada disekitar kita bukanlah SESUATU yang menjadi milik kita.

Rasa memiliki SESUATU itulah justru yang harus kita hindari. Bila kita renungkan dengan baik akan kita sadari bahwa SESUATU itu bukanlah milik kita melainkan sekedar SESUATU YANG ADA DISEKITAR KITA. Bila kita takluk pada rasa memiliki maka kita akan justru menjadi budak dari apa yang kita miliki tersebut karena dari waktu ke waktu kita selalu hanya akan berfikiran bagaimana agar MILIK kita tetap menjadi MILIK kita.

Ingat bahwa SESUATU yang ADA kelak akan menjadi SESUATU yang TIADA karena semua yang sifatnya kebendaan tidaklah Kekal.

Dengan rasa memiliki kita akan hanya berfikir dan berfikir (dengan amat sangat), berjuang dan berupaya melakukan segala cara sehingga kita tidak tahu lagi (atau dibutakan untuk mampu berfikiran jernih) apakah cara kita masih benar ataukah sudah tidak benar. Lalu justru pada saat itu kita akan kehilangan kendali diri dan bahkan bisa lupa diri. Ketahuilah bahwa di saat anda tidak bisa mengendalikan diri (terlalu ingin mempertahankan SESUATU tersebut) maka justru saat itulah malah SESUATU itu akan AMAT SANGAT MUDAH LEPAS dari kita.

Yang Sang Awam maksud dari MEMILIKI SESUATU sifatnya bisa sangat bermacam ragam, dari yang sifatnya kebendaan maupun yang lainnya.
Coba kita renungkan beberapa contoh berikut:
1. Saat kita punya rasa memiliki suatu benda maka saat benda itu hancur/hilang kita ikut merasa hancur dan kita melupakan hal lain yang masih ada sehingga terbengkalai dan tanpa kita sadari yang lainnya menjadi hancur/hilang pula.
2. Saat kita merasakan keberhasilan kita adalah dengan adanya benda tersebut maka sebenarnya kita telah mengecilkan arti kita sendiri yang dipercaya Sang Khaliq untuk memelihara benda tersebut.
3. Bila kita hanya berupaya dan berupaya MENDAPATKAN suatu benda sehingga kita terjerat nafsu (ingin memiliki) biasanya kita bahkan berani merelakan / melupakan benda lain (yang hanya kita bandingkan dari angka nominal atau dg nilai menurut manusia). Tetapi kita tidak pernah tahu bahwa kelak benda yang kita abaikan (dengan kata lain lepas TANGGUNG JAWAB atas benda tersebut) sebenarnya yang lebih layak untuk kita pelihara (bermanfaat melindungi atau mengangkat nilai kita sebagai Manusia yang benar).
4. Saat kita kehilangan proyek / kalah tender kita merasa kecewa karena BERANGGAPAN bahwa atas segala upaya yang telah kita lakukan sewajarnya proyek tersebut harusnya MILIK kita (harusnya kita yang menjalankan). Tapi sebenarnya kita tidak pernah tahu bagaimana kelak hasil akhir dari proyek tersebut? akankah hasilnya kelak menjadi suatu yang baik bagi kita? atau bahkan bisa menjadi suatu yang buruk bagi kita (karena gagal melaksanakan atau terkendala karena alasan apapun). Bila hasil akhirnya akan menjadi buruk bukankah dengan kalahnya kita atas proyek tersebut maka kita terhindar dari kehancuran ? Dan bukankah dengan terlepasnya kita dari suatu proyek maka kita PUNYA KESEMPATAN memenangkan proyek lainnya? Atau dengan dijauhkannya kita dari suatu proyek yang mungkin kita tidak sanggup menjalaninya maka kita justru akan terhindar dari catatan buruk?
5. Bila SESUATU itu merupakan suatu pasangan kita dan kita beranggapan bahwa kita memiliki pasangan kita tersebut maka dalam kehidupan berpasangan seperti itu justru sebenarnya kita tidak pernah mengetahui mengenai "siapa yang memiliki siapa"? Apakah kita memiliki dia ? atau sebaliknya?. Perlu diingat bahwa rasa memiliki atau SESUATU akan membuat kita cenderung MENGATUR milik kita tersebut. Sang Awam percaya bahwa kehidupan berpasangan yang SALING MENGATUR satu dengan yang lainnya tidak akan pernah menjadi hubungan yang langgeng. Cobalah untuk memendam rasa memiliki dan menggantinya menjadi rasa saling membutuhkan dan hal itu akan menimbulkan suatu tanggung jawab dari masing-masing. Tanggung jawab terbesar dalam kehidupan berpasangan adalah justru "menjaga hubungan" tersebut dalam arti yang seluas luasnya.
6. Banyak lagi contoh lain yang tidak bisa Sang Awam jabarkan diantara waktu sempit yang mampu Sang Awam luangkan, coba kembali lagi ke Blog ini pada kesempatan mendatang mungkin Sang Awam bisa menjabarkan contoh lainnya.

Suatu hal yang sangat berkaitan dengan IKHLAS ini adalah penerimaan diri terhadap suatu TAKDIR. Untuk itu harap lihat topik AWAM membaca TAKDIR.


Salam,
Sang Awam


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help